PENYEMBAHAN YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 21:14-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang disembuhkan oleh Yesus di Bait Allah?
  2. Apa yang membuat para imam kepala dan ahli-ahli Taurat merasa jengkel?
  3. Bagaimana jawaban Yesus terhadap pertanyaan para tua-tua Yahudi itu?
  4. Mengapa Yesus meninggalkan para tua-tua Yahudi yang jengkel itu, lalu pergi ke luar kota dan menginap di sana?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, setelah Yesus menyucikan Bait Allah, Bait Allah kembali menjadi rumah doa, bahkan menjadi rumah doa bagi segala bangsa, seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Yesaya 56:7 “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Tuhan tidak menghendaki rumah doa-Nya dijadikan sarang penyamun yaitu tempat orang-orang berjualan, menukar uang, menjual burung serta memperdagangkan berbagai hewan kurban lainnya.

Pada mulanya, para penukar uang, penjual burung dan penjual hewan kurban bertujuan untuk menolong para jemaat yang datang dari tempat yang jauh.

Mereka tidak perlu lagi bersusah payah membawa hewan kurban dari Galilea ke Yerusalem, ataupun dari Samaria dan daerah-daerah lain di Yudea yang letaknya jauh dari Yerusalem.

Tujuan tersebut pada awalnya baik. Namun, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, tujuan itu berubah menjadi kegiatan bisnis semata.

Keuntungan menjadi prioritas utama.

Akibatnya, halaman Bait Allah berubah menjadi tempat perdagangan.

Tempat yang sunyi dan kudus dipenuhi aktivitas jual beli sehingga suasana rumah doa terganggu oleh kesibukan dan kebisingan para pedagang.

Hal inilah yang menyebabkan Tuhan Yesus mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah.

Secara rohani, Tuhan menghendaki agar penyembahan kita tidak bercampur dengan cinta akan uang yaitu sikap hidup para penyembah Mamon yang mencemari rumah doa.

Penyembahan yang benar hanya dapat terjadi setelah para “penyamun”, yaitu segala bentuk cinta akan uang, disingkirkan dari rumah doa, yaitu tubuh dan kehidupan kita.

Kekudusan merupakan syarat mutlak bagi penyembahan.

Tidak ada penyembahan yang sejati tanpa kekudusan. Setelah terjadi penyucian dan pengudusan, barulah penyembahan kita dapat menyenangkan hati Tuhan.

Penyembahan yang benar akan membawa pemulihan.

Orang-orang yang sakit, yang cacat dan yang sedang menghadapi berbagai persoalan akan mengalami pemulihan ketika penyembahan yang benar dinaikkan kepada Tuhan.

Menyembah dalam roh dan kebenaran bukan berarti harus berbahasa roh.

Setiap orang percaya yang telah lahir baru sudah dapat menyembah dalam roh karena rohnya berada di bawah naungan kuasa Roh Kudus, sekalipun tidak memiliki atau tidak menggunakan karunia bahasa roh (glosolalia).

Penyembahan yang polos dan tulus seperti penyembahan anak-anak kecil kepada Yesus, justru membuat para pemimpin agama Yahudi menjadi marah dan jengkel terhadap Yesus.

Yesus berkenan mendengar pujian yang dinaikkan dengan hati yang sederhana dan murni.

Tuhan tidak mencari penyembah yang hebat.

Tuhan berkenan kepada penyembahan yang dinaikkan dengan hati yang kudus, tulus dan benar, bukan untuk mencari pujian atau perhatian manusia, melainkan semata-mata untuk mencari perkenan Tuhan.

Tuhan menolak penyembahan yang hanya bersifat agamawi dan ritual yang sekadar mengikuti liturgi atau program, tetapi tidak lahir dari hati yang kudus dan tulus.

Penyembahan seperti itu tidak lagi muncul secara spontan sebagai respon terhadap hadirat dan jamahan Tuhan.

Tuhan mencari penyembah-penyembah yang benar.

Yohanes 4:23-24 “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Saudara, setelah berdialog dengan para pemimpin agama Yahudi, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus meninggalkan Bait Allah dan pergi ke Betania.

Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus:

1 Korintus 6:19-20 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Saudara, Tuhan telah membeli kita dengan harga yang mahal dan menjadikan kita milik-Nya sepenuhnya. Ia menghendaki agar kita memuliakan Dia dengan tubuh kita.

Oleh sebab itu, biarlah Yesus menyucikan Bait Allah, yaitu tubuh kita sebagai tempat kediaman Roh Kudus sehingga tubuh dan kehidupan kita menjadi rumah doa.

Bapa menghendaki agar hidup kita menjadi rumah doa bagi segala bangsa.

Saudara, marilah kita mempersembahkan hidup kita sebagai penyembah-penyembah yang benar, yang menyenangkan hati Bapa, karena kita menyembah Dia dalam roh dan kebenaran.

Haleluya. Puji Tuhan. Amin.

Dengan apakah Tuhan menyucikan hidup kita pada saat ini?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 1-3