MENGHAMPIRI TAHTA KASIH KARUNIA
Penulis : Anang Kristianto

Pembacaan Alkitab Hari ini :
IBRANI 4:14-16
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Imam Besar Agung seperti apa yang kita punyai saat ini sesuai ayat yang kita baca?
- Apakah Imam Besar yang kita punya dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita?
- Apakah Imam Besar yang kita punya juga dicobai seperti kita?
- Mengapa kita harus dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia?

Surat Ibrani ditulis kepada orang-orang percaya yang sedang menghadapi tekanan, penderitaan, dan godaan untuk meninggalkan iman mereka kepada Kristus.
Penulis surat Ibrani mengingatkan bahwa mereka memiliki “Imam Besar Agung”, yaitu Yesus Kristus, yang telah melintasi semua langit dan kini berada di hadapan Allah.
Dalam budaya Yahudi pada abad pertama, imam besar memiliki peran yang sangat penting sebagai perantara antara Allah dan umat.
Setahun sekali, pada Hari Pendamaian, imam besar memasuki ruang Mahakudus untuk mempersembahkan korban bagi dosa bangsa Israel.
Namun imam besar manusia juga memiliki kelemahan dan harus mempersembahkan korban untuk dirinya sendiri.
Yesus adalah Imam Besar yang sempurna. Ia pernah hidup sebagai manusia, mengalami pencobaan, penderitaan, kelelahan, bahkan penolakan, tetapi tetap tidak berdosa.
Ia mampu memahami pergumulan manusia dengan sempurna.
Pada masa itu, menghadap takhta seorang raja bukanlah hal yang mudah karena ada risiko ditolak atau bahkan dihukum.
Namun Allah melalui Kristus membuka jalan sehingga umat-Nya dapat menyembah datang kepada-Nya dengan keyakinan penuh untuk menerima belas kasihan dan pertolongan.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa tidak layak datang kepada Tuhan.
Ketika gagal, jatuh dalam dosa, mengalami masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, atau pergumulan kesehatan, sering kali muncul perasaan malu dan takut.
Kita berpikir bahwa Tuhan mungkin kecewa dan tidak ingin mendengarkan doa kita.
Namun firman Tuhan hari ini justru mengajarkan hal yang sebaliknya.
Tahta Allah bagi orang percaya bukanlah tahta penghukuman, melainkan tahta kasih karunia.
Artinya, ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang tulus, kita tidak akan menemukan penolakan, tetapi penerimaan.
Menghampiri tahta kasih karunia berarti membawa seluruh beban hidup kepada Tuhan tanpa menyembunyikan apa pun.
Kita boleh datang dengan air mata, dengan pertanyaan yang belum terjawab, dengan hati yang hancur, bahkan dengan kegagalan yang masih membebani pikiran.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk tidak menjauh ketika lemah, tetapi justru mendekat kepada-Nya melalui kehidupan penyembahan.
Jangan menunggu sampai hidup terasa baik-baik saja untuk berdoa dan menyembah.
Jangan menunggu sampai semua masalah selesai untuk mencari Tuhan.
Sebaliknya, Ia mengundang kita datang apa adanya agar Ia dapat membentuk dan menguatkan kita.
Karena itu, jadikan penyembahan sebagai langkah pertama, bukan pilihan terakhir.
Hari ini, marilah kita menghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keberanian dan mengalami kasih Tuhan yang memulihkan hidup kita.

Bagaimana kehidupan penyembahan kita? Apakah dipengaruhi oleh kondisi yang ada diluar kita? Bagaimana ketika kita dalam kondisi senang atau susah dalam pergumulan, masihkah kita dapat fokus menyembah? Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita.
Pembacaan Alkitab Setahun
Mazmur 120-132