PENYEMBAH YANG DICARI BAPA

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 4:21-24

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Di manakah dua tempat spesifik yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus tidak lagi menjadi tempat mutlak untuk menyembah?
  2. Seperti apakah jenis penyembah yang dicari atau dikehendaki oleh Bapa?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Salah satu percakapan paling mendalam dalam Perjanjian Baru tidak terjadi di bait suci, melainkan di pinggir sebuah sumur di Samaria.

Di sana, Tuhan Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria yang memiliki masa lalu kelam.

Ketika perempuan itu mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai mengusik kehidupan pribadinya dengan memperdebatkan lokasi penyembahan yang benar, apakah di gunung sesuai tradisi orang Samaria atau di Yerusalem sesuai tradisi Yahudi, Tuhan Yesus justru membawa diskusi ke level yang jauh lebih tinggi.

Tuhan Yesus membongkar esensi terdalam dari ibadah, yaitu bukan tentang di mana kita menyembah, melainkan siapa yang kita sembah dan bagaimana kita menyembah-Nya.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Menyembah dalam roh berarti penyembahan kita digerakkan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, bukan sekadar rutinitas kegiatan rohani.

Ini melibatkan keterlibatan batin yang paling dalam, yaitu kasih, hormat dan rasa takut akan Tuhan.

Menyembah dalam kebenaran berarti penyembahan kita harus selaras dengan kebenaran Firman Allah (Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup).

Kita tidak bisa menyembah Allah menurut imajinasi atau selera kita sendiri.

Menyembah dalam kebenaran juga berarti ketulusan dan kejujuran atau integritas.

Allah tidak mencari penampilan luar yang religius namun penuh kemunafikan seperti orang yang menggunakan topeng.

Tuhan mencari hati yang jujur, senang diajar, yang mengakui kelemahannya dan rindu diubahkan.

Kedua pilar ini harus seimbang.

Menyembah dalam roh saja tanpa kebenaran akan menjerumuskan seseorang pada penyembahan yang lebih dikuasai oleh emosi.

Sebaliknya, menyembah dalam kebenaran saja tanpa roh akan membuat kita jatuh pada legalisme, agamawi yang kaku, dan dingin.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan bagaimana pengalamanmu dalam menyembah Tuhan di ibadah secara bersama dan ketika engkau sendiri di ruang doamu?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 108-114