DIAM BERSAMA DENGAN RUKUN
Penulis : Pramadya Wisnu

Pembacaan Alkitab Hari ini :
MAZMUR 133:1-3
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Mengapa dalam realita sehari-hari, menjaga kerukunan baik dalam keluarga atau gereja sering kali terasa sulit dilakukan?
- Bagaimana peran pemimpin dalam mengalirkan “minyak kerukunan” ini kepada anggotanya?

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh kepentingan pribadi, dan ego, kerukunan menjadi barang mewah yang langka.
Hal itu sangat terlihat di media sosial, dimana orang sangat mudah untuk mencela, menghakimi orang lain, khususnya mencela para pemimpin.
Dan spirit ini tanpa disadari mulai merembes ke komunitas rohani!
Allah adalah Kasih dan kita yang adalah umat Allah, sepatutnya lah kita adalah cerminan dari kasih Allah, misalnya kita akan berkomunikasi dengan mengedepankan kasih.
Dan jika kasih ada dalam atmosfer komunitas kita, apakah itu dalam keluarga, di kantor, di sekolah dan di gereja.
Maka akan mudah tercipta kerukunan.
Tanpa disuruh kita akan menjaga kerukunan ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan tersebut.
Ada yang mengatakan kita diciptakan berbeda satu dengan yang lain. Jadi mustahil kita bisa rukun.
Tetapi itu adalah anggapan yang keliru, meskipun sangat bisa dipahami mengapa banyak orang berpikir demikian.
Banyak orang berpikir bahwa rukun atau bersatu itu artinya harus sama (seragam).
Padahal, rukun dan seragam adalah dua hal yang benar-benar berbeda.
Keseragaman, semua orang harus memiliki pemikiran, sifat, latar belakang, dan hobi yang persis sama.
Ini membosankan dan memang mustahil terjadi.
Sedangkan kesatuan/kerukunan adalah kumpulan berbagai elemen yang berbeda bergerak bersama menuju satu tujuan yang sama, saling melengkapi, dan saling menghargai.
Jika kita semua sama, kita tidak saling membutuhkan.
Kita diciptakan berbeda, justru supaya kita bisa saling melengkapi bagian yang tidak kita miliki.
Jadi, jika perbedaan bukan hambatan, apa yang membuat kita bisa rukun? Kuncinya bukan pada karakter kita yang harus sama, melainkan pada kedewasaan sikap kita.
Adánya kasih karunia dan pengampunan.
Kita tidak bisa rukun kalau kita menuntut orang lain menjadi persis seperti kita.
Kerukunan terjadi saat kita sadar bahwa orang lain punya kelemahan, dan kita memilih untuk mengampuni.
Fokus pada persamaan, bukan perbedaan.
Sering kali kita bertengkar karena terlalu fokus pada 10% perbedaan, dan mengabaikan 90% persamaan.
Rendah hati: Orang yang sombong (merasa dirinya paling benar) memang akan mustahil hidup rukun dengan siapa pun.
Namun, orang yang rendah hati selalu bisa menemukan celah untuk berdamai di tengah perbedaan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan di bagian mana dari perbedaan (apakah karakter, pendapat, atau latar belakang) yang biasanya paling sulit untuk menjaga kerukunan?
Pembacaan Alkitab Setahun
Mazmur 106-107