MENGAMPUNI TANPA BATAS

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 6:12-15

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa permohonan yang diajarkan Yesus Kristus dalam bagian “Doa Bapa Kami” tentang pengampunan?
  2. Apa akibatnya jika seseorang tidak mau mengampuni menurut Matius 6:15?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, luka karena dikhianati, luka karena diabaikan, luka karena kata-kata yang merendahkan, luka yang terus tinggal diam di dalam hati, meskipun waktu sudah berjalan begitu lama.

Sering kali kita berkata bahwa kita sudah baik-baik saja, tetapi setiap kali mengingat orang itu, hati masih terasa panas. Ada kecewa yang belum selesai, ada tangisan yang belum benar-benar sembuh.

Lalu Yesus membawa kita kepada sebuah doa yang sederhana, tetapi sangat dalam yaitu : “Ampunilah kami… seperti kami juga mengampuni.”

Ternyata pengampunan bukan hanya tentang hubungan kita dengan sesama, tetapi juga tentang kondisi hati di hadapan Allah.

Tuhan tahu bahwa hati yang menyimpan kepahitan perlahan akan menjadi keras.

Dendam mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi ia diam-diam menguras damai sejahtera, sukacita, bahkan hubungan kita dengan Tuhan.

Kadang kita berpikir bahwa kalau aku mengampuni, berarti aku kalah, kalau aku mengampuni, berarti apa yang dia lakukan itu benar.

Tetapi mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan.

Mengampuni adalah memilih untuk tidak hidup dikuasai oleh luka itu lagi.

Pengampunan adalah menyerahkan hak untuk membalas ke dalam tangan Tuhan.

Di kayu salib, Yesus Kristus memberikan teladan yang paling dalam. Dalam penderitaan dan penghinaan, Dia berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka.”

Yesus mengampuni bahkan ketika orang-orang belum meminta maaf kepada-Nya.

Itulah kasih yang melampaui logika manusia.

Ketika kita sungguh mengalami pengampunan Tuhan, hati kita perlahan dilembutkan untuk mengampuni sesama.

Bukan karena mereka pantas diampuni, tetapi karena kita pun telah diampuni.

Sebab selama kita menggenggam kepahitan, tangan kita sulit menerima damai sejahtera dari Tuhan.

Mengampuni memang menyakitkan.

Tetapi hidup dalam kepahitan akan jauh lebih melelahkan.

Mengapa pengampunan tidak hanya soal perasaan, tetapi juga keputusan? Bagaimana pengampunan bisa mempengaruhi hati seseorang secara rohani dan emosional?

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 86-89