KASIH ALLAH YANG MENGUBAH DUNIA

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 YOHANES 4:7-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Dari mana asal kasih yang sejati menurut 1 Yohanes 4:7–10?
  2. Bagaimana Allah menunjukkan kasihNya kepada manusia melalui Yesus Kristus?
  3. Apa tanggung jawab orang percaya setelah menerima kasih Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat 1 Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes kepada jemaat Kristen mula-mula yang sedang menghadapi ancaman serius dari pengajar-pengajar palsu yang merusak pemahaman tentang Kristus dan kehidupan suci dan kudus.

Mereka mengaku memiliki pengetahuan rohani yang tinggi, tetapi hidup tanpa kasih, bahkan memisahkan diri dari persekutuan jemaat.

Karena itu, Yohanes menulis bukan hanya untuk melawan ajaran yang menyimpang, tetapi juga untuk menunjukkan kasih yang sungguh-sungguh atau kasih yang tulus dari kehidupan yang lahir dari Allah.

Dalam 1 Yohanes 4:7–10, Yohanes membawa jemaat kembali kepada dasar iman yang sejati, yaitu kasih yang berasal dari Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa kasih bukan hasil pekerjaan moralitas manusia, melainkan bukti pekerjaan Allah dalam diri seseorang.

Ketika Yohanes berkata, “setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah,” ia sedang menegaskan bahwa kelahiran baru mendahului kemampuan manusia untuk mengasihi dengan benar.

Manusia berdosa pada aslinya cenderung hidup dalam egoisme dan pemberontakan terhadap Allah, sehingga kasih sejati hanya mungkin terjadi ketika Allah terlebih dahulu memperbarui hati manusia melalui karya Roh Kudus.

Dengan demikian, kasih bukan akar keselamatan, tetapi buah dari keselamatan yang dikerjakan Allah.

Inti dari bagian ini tampak pada ayat 9–10, yaitu pernyataan kasih Allah melalui pengutusan AnakNya yang tunggal ke dalam dunia.

Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa kasih Allah bukan sekadar teori yang sulit dipahami atau hanya mengandalkan perasaan semata, tetapi tindakan yang nyata di dalam Kristus.

Kalimat “bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” menunjukkan bahwa setelah manusia Adam jatuh ke dalam dosa, maka manusia pada dasarnya sudah mati secara rohani dan manusia tidak mencari Allah.

Karena itu, Allah sendiri yang terlebih dahulu berinisiatif mengambil tindakan dengan mengutus Kristus untuk menanggung dosa-dosa kita.

Artinya, Yesus menjadi pengganti manusia berdosa dengan menerima hukuman yang seharusnya kita tanggung, sehingga hubungan manusia dengan Allah dipulihkan.

Di kayu salib, Kristus bukan hanya memberikan teladan kasih, tetapi benar-benar menanggung hukuman dosa umatNya supaya mereka diperdamaikan dengan Allah.

Inilah inti Injil, yaitu kasih Allah bekerja melalui pengorbanan Kristus yang sempurna dan efektif.

Kebenaran apa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Yohanes menegaskan bahwa setiap orang yang telah menerima kasih Allah dipanggil untuk hidup dalam kasih yang sama.

Dalam kekristenan, dasar hidup orang percaya bukanlah “supaya,” melainkan “karena”; dengan kata lain kita mengasihi bukan “supaya” diselamatkan, tetapi “karena” kita telah terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih Kristus melalui pengorbananNya di kayu salib untuk menebus penyakit kita, yaitu dosa-dosa kita.

Karena Kristus telah mengasihi dan mengampuni kita tanpa syarat, maka orang percaya juga dipanggil untuk mengasihi, mengampuni, dan hidup dalam damai dengan sesama tanpa syarat.

Kasih Kristen bukan sekadar sikap ramah, suka menolong, jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu, doakan musuh, atau toleransi tanpa kebenaran, melainkan kehidupan yang memancarkan karakter Kristus melalui kekudusan, kesucian hidup, kerendahan hati, pengorbanan diri, kesetiaan, kerelaan meminta maaf, hati yang mau mengampuni, kepedulian kepada sesama, serta keberanian memberitakan Injil keselamatan, bahkan dalam sikap yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan rela mengalah, mengampuni, mendoakan musuh, dan menunjukkan kasih yang nyata sebagaimana Kristus ajarkan.

Di tengah dunia yang dipenuhi kebencian, egoisme, dan kepentingan diri sendiri, gereja dipanggil menjadi saksi melalui kasih yang lahir dari Injil dan berakar pada kebenaran firman Tuhan.

Karena itu, setiap orang percaya perlu menguji dirinya, apakah kasih yang ditunjukkan sungguh lahir dari hati yang telah diperbarui oleh Allah atau hanya berasal dari motivasi manusiawi?

Sebab ketika gereja hidup di bawah kuasa kasih Allah yang sejati, dunia akan melihat kemuliaan Kristus dinyatakan melalui kehidupan umatNya.

Sering kali Allah memakai dan memerlukan jemaat yang hidup dalam kasihNya untuk menjadi alatNya dalam membawa perubahan di tengah dunia ini.

Apakah kasih Allah yang telah kita terima sudah nyata terlihat dalam cara kita mengasihi sesama hari ini? Diskusikan dalam kelompok PA dan persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 21-23