MENGEJAR KEKUDUSAN SETIAP HARI

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

IBRANI 12:14-17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apakah yang dimaksud dengan hidup damai dengan semua orang?
  2. Apakah yang dimaksud dengan “akar pahit” dan bagaimana kepahitan dapat merusak kehidupan rohani maupun hubungan dengan orang lain?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ibrani 12:14  “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”

Kata “kejar” menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh.

Kekudusan bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis.

Maksudnya, oleh anugerah kita telah diselamatkan dari hukuman kekal, kita telah dikuduskan.

Selanjutnya Tuhan ingin agar kita tetap hidup kudus, dan ini yang harus dipahami dengan benar bahwa harus ada upaya kita untuk mengejar kekudusan.

Kita dipanggil untuk aktif hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, bukan pasrah dan mengalir mengikuti arus dunia.

Ini bukan berarti manusia diselamatkan karena perbuatan baik.

Keselamatan tetap oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus.

Tetapi iman yang sejati akan menghasilkan kehidupan yang berubah.

Jadi kita tidak boleh puas setelah mendapat keyakinan akan keselamatan, Tuhan ingin agar kita hidup dalam kekudusan karena “Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”

Kudus berarti dipisahkan bagi Allah.

Orang kudus bukan berarti sempurna tanpa kesalahan, tetapi hidupnya diarahkan untuk menyenangkan Tuhan.

Kekudusan terlihat dalam: pikiran yang bersih bukan pikiran yang kotor dan najis, perkataan yang membangun bukan perkataan yang kasar atau menghakimi, senang pada kejujuran, kita menjaga kemurnian hidup dan menjauhi kehidupan yang cemar oleh karena dosa yang disimpan.

Ayat 16: “Jangan ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu rendah seperti Esau…”

Esau menjual hak kesulungannya demi semangkuk makanan.

Ia lebih menghargai kepuasan sesaat daripada berkat rohani jangka panjang.

Dunia modern juga penuh “mangkuk kacang merah”.

Banyak orang menukar kekudusan demi kenikmatan sementara, menukar integritas demi uang, menukar iman demi popularitas, menukar hubungan dengan Tuhan dengan kesenangan sesaat.

Masalah Esau bukan sekadar makanan.

Masalahnya adalah hati yang tidak menghargai hal rohani.

Esau memilih kepuasan instan dibandingkan warisan rohani yang kekal.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan tentang situasi dunia saat ini yang penuh kompromi dan godaan. Dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya dengan benar.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ayub 8-10