HATI YANG SIAP MEMULIAKAN KRISTUS

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 PETRUS 3:13-16

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?
  2. Apakah Kristus benar-benar Tuhan di dalam hati saya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dalam 1 Petrus 3:13–16, tidak hanya berbicara tentang perilaku luar, tetapi tentang siapa yang sebenarnya memerintah dari dalam hati.

Petrus memulai “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan.”

Kalimat ini sederhana, tetapi sebenarnya merupakan pondasi didalam hati manusia.

Kita sering mendengar apakah Kristus benar-benar Tuhan didalam hati kita, atau hanya salah satu suara di antara banyak suara lain dalam hati?

Karena kenyataannya, hati manusia tidak pernah kosong.

Selalu ada sesuatu yang duduk di hati kita: rasa takut, keinginan diterima, ambisi, masa depan, atau bahkan luka masa lalu.

Dan apa pun yang duduk di hati kita itu akan mengendalikan cara kita bereaksi.

Petrus tidak menutup mata terhadap realitas bahwa orang benar bisa menderita.

Bahkan ia berkata bahwa penderitaan karena kebenaran tidak menghapus sukacita serta berbahagia.

Di tengah penderitaan/tekanan itu, Petrus berkata: “Jangan takut.”

Namun ini bukan sekadar larangan emosional. Ini adalah ajakan untuk memindahkan pusat ketakutan.

Ketakutan tidak hilang hanya dengan dilarang, tetapi kehilangan kuasanya ketika ada sesuatu yang lebih besar mengisi hati.

Dan yang lebih besar itu adalah Kristus yang dikuduskan di dalam hati.

Dari situ mengalir satu hal penting yaitu kesaksian hidup.

Petrus berkata untuk selalu siap memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada di dalam kita, tetapi dengan kelemahlembutan dan hormat.

Kebenaran yang keras tanpa kasih akan melukai, Kasih tanpa kebenaran akan kehilangan arah.

Tetapi ketika keduanya bertemu, hidup orang percaya menjadi ruang di mana Kristus bisa terlihat dengan jelas.

Petrus sedang membawa kita ke satu titik yang sangat sederhana tetapi sangat dalam yaitu Jika Kristus benar-benar menjadi Tuhan di dalam hati maka ketakutan kehilangan kuasanya, kebenaran tidak lagi ditukar dengan kenyamanan, kesaksian menjadi alami bukan dipaksakan.

Bagian manakah dari karakter saya yang paling sulit untuk tetap “lemah lembut” saat mengalami persoalan/penderitaan?Apakah saya sudah sungguh-sungguh siap menjelaskan “pengharapan” saya jika ada rekan kerja atau teman bertanya mengapa saya tetap tenang di masa sulit?Apa satu hal konkrit yang harus saya ubah agar hati nurani saya benar-benar murni di hadapan Allah?

Pembacaan Alkitab Setahun

Nehemia 12-13