BERKATA BENAR SEORANG KEPADA YANG LAIN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 4:25-27

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa alasan Paulus mengapa kita harus berkata benar seorang kepada yang lain (ayat 25)?
  2. Apa bedanya marah yang tidak berdosa dengan marah yang berdosa menurut ayat 26?
  3. Apa akibatnya jika kita membiarkan amarah berlarut-larut tanpa diselesaikan (ayat 27)?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota“ (Efesus 4:25).

Coba bayangkan tubuhmu. Jika tangan berkata bohong kepada kaki, apa yang terjadi? Tubuh akan kacau.

Tangan mungkin berkata, “Tidak ada bahaya di depan,” padahal ada lubang, lalu kaki terperosok.

Demikian juga gereja. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa kita semua adalah anggota tubuh yang sama, yaitu tubuh Kristus.

Karena itu, kita tidak bisa hidup saling berbohong. Dusta, sekecil apa pun, akan merusak hubungan dan melemahkan persekutuan.

Di zaman Paulus, banyak orang terbiasa berbohong untuk keuntungan sendiri.

Tapi Paulus berkata: “Buanglah dusta!” Ini perintah tegas.

Sebagai bagian dari tubuh Kristus, kita harus saling percaya, dan kepercayaan itu dimulai dari kejujuran.

Dusta Merusak Persekutuan, Kebenaran Membangun.

Prinsip pertama yang Paulus ajarkan adalah bahwa kebenaran membangun tubuh Kristus, sedangkan dusta merusaknya.

Mengapa Paulus menyuruh kita berkata benar “karena kita adalah anggota tubuh seorang sama lain”?

Karena jika satu anggota berbohong, anggota lain akan tersesat, salah mengambil keputusan, atau terluka hatinya.

Kebohongan dalam gereja bisa menyebabkan perpecahan, kecurigaan, dan hilangnya kepercayaan.

Sebaliknya, ketika kita berkata benar, kita sedang membangun fondasi yang kokoh untuk saling percaya dan mengasihi.

Yesus sendiri berkata, “Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6).

Jadi berkata benar berarti membawa karakter Kristus ke dalam hubungan kita dengan sesama.

Jangan Biarkan Amarah Berlarut-larut.

Prinsip kedua yang menarik dari ayat ini adalah hubungan antara kejujuran dan kemarahan.

Paulus berkata, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.”

Kemarahan itu sendiri tidak selalu dosa.

Bahkan Yesus pernah marah ketika melihat Bait Allah menjadi sarang pencuri.

Tapi Paulus memperingatkan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”

Artinya, jika kita marah, selesaikan segera dengan jujur.

Jangan biarkan amarah mengendap menjadi kebencian, kepahitan, atau dendam.

Dan jangan biarkan amarah itu mendorong kita untuk berbohong atau menyebarkan fitnah tentang orang yang membuat kita marah.

Jika kita membiarkan amarah berlarut-larut, kita memberi “kesempatan kepada Iblis” untuk masuk dan menghancurkan persekutuan.

Kejujuran dalam mengungkapkan perasaan adalah cara untuk memadamkan amarah sebelum berubah menjadi dosa.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Biasakan Berkata Jujur Meskipun Risiko. Jika kamu melakukan kesalahan, akui.

Jika kamu tidak setuju dengan seseorang, katakan dengan hormat, jangan diam-diam menyimpan kekesalan.

Jika kamu merasa disakiti, sampaikan dengan cara yang membangun, bukan dengan gosip.

Mulailah dari lingkungan terdekat: keluarga, kelompok PA, atau teman persekutuan.

Katakan yang sebenarnya dengan kasih.

Kedua, Selesaikan Masalah Sebelum Hari Berganti.

Jika hari ini ada orang yang membuatmu marah atau kamu menyakiti hati orang lain, jangan dibawa tidur.

Segera hubungi, minta maaf, atau selesaikan masalah dengan jujur.

Dengan begitu, kamu tidak memberi kesempatan kepada iblis untuk merusak hubunganmu.

Latihan sederhana ini akan membuat hidupmu lebih ringan, persekutuanmu lebih sehat, dan hatimu lebih damai.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana menjadi teman untuk saling mengampuni.

Pembacaan Alkitab Setahun

Ezra 1-3