YA TETAP YA, TIDAK TETAP TIDAK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:33-37

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa kebiasaan orang Yahudi yang Yesus kritik dalam hal bersumpah, dan mengapa itu salah?
  2. Apa yang Yesus perintahkan sebagai pengganti kebiasaan bersumpah? Mengapa cukup “ya” dan “tidak”?
  3. Mengapa Yesus berkata bahwa segala sesuatu yang lebih dari “ya” dan “tidak” berasal dari si jahat?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37).

Coba bayangkan zaman Yesus.

Orang-orang pandai bersumpah dengan kata-kata yang indah, tapi hati mereka licik.

Mereka bersumpah “demi Bait Allah” tapi kalau ingkar, mereka bilang itu tidak mengikat.

Mereka punya aturan rumit tentang sumpah mana yang wajib ditepati dan mana yang tidak.

Di balik semua itu, mereka ingin terlihat jujur, padahal mereka sedang mencari cara untuk berbohong tanpa ketahuan.

Yesus melihat kepalsuan ini. Ia berkata, “Janganlah sekali-kali kamu bersumpah.”

Maksud Yesus bukan melarang sumpah di pengadilan, tetapi melarang kebiasaan bersumpah dalam percakapan sehari-hari yang justru menunjukkan ketidakjujuran.

Orang yang jujur tidak perlu sumpah; kata-katanya sudah cukup.

Prinsip pertama yang Yesus ajarkan adalah bahwa kejujuran harus menjadi gaya hidup orang percaya, bukan sesuatu yang dipaksakan dengan sumpah.

Kalau kita selalu jujur, orang tidak perlu meminta kita bersumpah.

Cukup “ya” atau “tidak” dari mulut kita sudah bisa dipercaya. Ini adalah ciri hidup yang telah diubah oleh Roh Kudus.

Hati yang jujur akan melahirkan perkataan yang jujur.

Sebaliknya, orang yang suka menambah-nambahi perkataan dengan sumpah atau janji berlebihan, seringkali sedang berusaha menutupi ketidakjujuran.

Yesus mengingatkan bahwa semua perkataan kita harus keluar dari hati yang tulus.

Jangan sampai kita terlatih mengatakan hal-hal yang indah tetapi tidak benar.

Perkataan Kita Mencerminkan Identitas Kita.

Prinsip kedua adalah bahwa perkataan kita mencerminkan siapa kita di hadapan Tuhan dan manusia.

Yesus berkata, “Segala sesuatu yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Artinya, kebiasaan bersumpah atau berjanji berlebihan justru memberi celah bagi iblis untuk masuk.

Iblis adalah bapa segala dusta.

Kalau kita terbiasa mengatakan “demi Tuhan” untuk hal-hal yang tidak sungguh-sungguh, kita sedang mempermainkan nama Tuhan.

Kalau kita berkata “saya janji” tapi tidak ditepati, kita sedang merusak kepercayaan.

Yesus ingin kita menjadi orang yang begitu jujur sehingga kata “ya” sudah berarti pasti, dan kata “tidak” sudah berarti tegas.

Dengan begitu, kita menjadi terang di tengah dunia yang penuh kepalsuan.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Latih Dirimu untuk Berbicara Apa Adanya.

Mulai dari hal-hal kecil. Jika kamu terlambat, katakan “aku terlambat”, jangan mencari alasan berbelit.

Jika kamu tidak bisa melakukan sesuatu, katakan “tidak bisa”, jangan berjanji kosong.

Jika kamu setuju, katakan “ya” dengan tegas. Dengan latihan sederhana ini, karaktermu akan dibentuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya.

Kedua, Hindari Perkataan Berlebihan yang Tidak Perlu.

Jangan biasakan mengatakan “demi Tuhan” atau “sumpah demi apa” dalam percakapan sehari-hari, apalagi untuk hal-hal sepele.

Biarkan perkataanmu berdiri sendiri karena kejujuranmu sudah dikenal orang.

Jika perlu berjanji, tepati. Jika tidak yakin bisa, katakan “aku akan berusaha” bukan “aku janji”.

Dengan begitu, hidupmu akan menjadi kesaksian yang nyata tentang kebenaran Kristus.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya leluasa mengungkapkan kebenaran dan bicara jujur apa adanya.

Pembacaan Alkitab Setahun

2 Tawarikh 28-31