MENGASIHI TUHAN DENGAN MELAKUKAN FIRMAN
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

Pembacaan Alkitab Hari ini :
YOHANES 14:21-24
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Menurut Yohanes 14:21, apa buktinya seseorang benar-benar mengasihi Yesus?
- Apa janji Yesus bagi orang yang mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya (ayat 23)?
- Perbedaan mendasar apa yang Yesus tunjukkan antara orang yang mengasihi Dia dan orang yang tidak mengasihi Dia (ayat 24)

“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. (Yohanes 14:23)
Kita sering mendengar orang berkata, “Aku cinta Tuhan.”
Tapi apa buktinya? Yesus dalam percakapan dengan murid-murid-Nya menjelaskan hal ini dengan sangat jelas.
Saat itu Yudas (bukan yang mengkhianati Yesus) bertanya mengapa Yesus hanya menampakkan diri kepada murid-murid, bukan kepada dunia.
Yesus menjawab bahwa intinya bukan soal penampakkan, tapi soal hubungan hati.
Orang yang benar-benar mengasihi Yesus adalah orang yang menuruti firman-Nya.
Ini menunjukkan bahwa kasih kepada Tuhan bukan hanya perasaan hangat di dalam hati, tetapi sesuatu yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Seperti kata orang, “Cinta itu kata kerja.” Kasih kepada Tuhan terbukti dari ketaatan kita kepada apa yang Ia perintahkan.
Ketaatan pada firman Tuhan adalah bukti otentik kasih kita kepada-Nya.
Yesus berkata, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku” (ayat 21).
Ini bukan berarti kita diselamatkan karena ketaatan, tetapi ketaatan adalah respons alami dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Dia.
Coba bayangkan hubungan suami istri.
Kalau seorang suami berkata “Aku cinta kamu” tapi terus berselingkuh, apakah kata-katanya berarti? Tentu tidak.
Kasih sejati dibuktikan dengan kesetiaan.
Demikian pula dengan Tuhan. Kita bisa bernyanyi dengan merdu, berdoa dengan khusyuk, tapi kalau hidup kita tidak taat pada firman-Nya, kasih kita perlu dipertanyakan.
Ketaatan bukan beban, melainkan jalan untuk menyenangkan hati Dia yang kita kasihi.
Ketaatan membawa kita pada pengalaman yang lebih dalam akan kehadiran Tuhan.
Yesus berjanji: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (ayat 23).
Ini janji yang luar biasa! Bukan sekadar Tuhan di surga jauh di atas sana, tetapi Tuhan yang tinggal bersama kita, diam di dalam hati kita.
Pengalaman intim ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang taat.
Sebaliknya, orang yang tidak taat, meskipun rajin ke gereja, tidak akan mengalami keintiman ini.
Tuhan tidak bisa dipisahkan dari firman-Nya. Menerima firman berarti menerima Dia.
Menolak firman berarti menolak Dia. Jadi, semakin kita taat, semakin kita mengenal Dia, dan semakin kita merasakan kehadiran-Nya yang manis dalam hidup sehari-hari.
Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.
Pertama, Periksa Motivasi di Balik Setiap Tindakan. Setiap kali kita melakukan sesuatu, tanya pada diri sendiri: “Apakah ini kulakukan karena aku mengasihi Tuhan?”
Misalnya, saat menolong orang, saat menahan amarah, saat memberi persembahan, lakukanlah sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan, bukan karena ingin dipuji atau karena terpaksa.
Kasih yang tulus akan membuat ketaatan menjadi ringan.
Kedua, Baca dan Lakukan Firman Secara Konsisten.
Pilih satu perintah Tuhan setiap minggu untuk dilakukan secara sadar. Misalnya, minggu ini belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Minggu depan belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal.
dengan sungguh-sungguh, dan minta tolong Roh Kudus. Dengan langkah kecil yang konsisten, kasih kita kepada Tuhan akan bertumbuh, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya semakin nyata.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana memiliki sikap hati yang taat sebagai bukti kasih kepada Tuhan.
Pembacaan Alkitab Setahun
1 Raja-Raja 18-20