YESUS MENGALAHKAN KUASA MAUT
Penulis : Bernard Tagor

Pembacaan Alkitab Hari ini :
IBRANI 2:9-15
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Mengapa Yesus harus menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” dengan menjadi manusia yang bisa mati?
- Apa makna Yesus mengalahkan kuasa maut?
- Apakah kemenangan Yesus di salib berarti Iblis sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang?
- Bagaimana kemenangan Yesus atas maut mengubah cara kita merespons terhadap ketakutan atau kecemasan yang saat ini mungkin kita sedang hadapi?

Surat Ibrani ditulis bagi jemaat Yahudi Kristen abad pertama yang sedang mengalami krisis iman dan juga sedang terancam penganiayaan yg begitu hebat pada masa itu, sehingga mereka tergoda kembali pada “legalisme Yudaisme” (cara beragama dengan aturan yang kaku) demi keamanan.
Penulis menegaskan keunggulan Kristus yang secara sukarela menjadi “seketika lebih rendah daripada malaikat” (ay. 9) melalui inkarnasi.
Perendahan diri ini bukan kegagalan keilahian Allah, melainkan keharusan agar Yesus dapat menanggung maut sebagai manusia sejati.
Ia menjadi sama dengan “darah dan daging” kita agar menjadi Imam Besar yang seperasaan serta wakil yang sah dari manusia dalam menanggung penghukuman Allah.
Kemenangan Yesus terjadi karena disalib Ia menuntaskan seluruh tuntutan hukum Allah atas dosa kita.
Melalui kematianNya, Yesus melakukan “Katargeo” dari kata Yunani, yang berarti : melumpuhkan, membuat tidak berfungsi, membatalkan hak hukum, dan meniadakan kuasa Iblis yang selama ini memegang senjata maut atas manusia berdosa (ayat 14).
Meski keberadaan Iblis belum dilenyapkan dari dunia, namun kuasa hukumnya telah dipatahkan.
Tindakan ini menghasilkan “apallasso”, dari bahasa Yunani adalah istilah yang sering digunakan dalam dunia hukum kuno untuk pembebasan seorang budak atau tawanan perang.
Dengan kata lain pembebasan total atau kemerdekaan bagi orang percaya dari penjara ketakutan (ayat 15).
Saat Yesus terlihat “kalah” di salib, Ia justru sedang melucuti senjata maut secara permanen dan mengubah status kita dari tawanan menjadi anak-anak merdeka.
Secara praktis karena Kristus telah melakukan “apallasso”, seharusnya kita tidak boleh lagi hidup sebagai budak ketakutan.
Ketakutan dalam bentuk apapun itu.
Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini perang Iran, Amerika dan Israel yang saat ini mengancam stabilitas global.
Hal ini pasti berdampak kepada ekonomi, krisis energi, hingga potensi sentimen agama dan juga bisa menjadi konflik sosial di dalam negeri.
Tentu sedikitnya hal itu akan berdampak pula bagi kita anak-anak Tuhan di Indonesia.
Namun, apakah kita harus cemas dan takut berlebihan akan semua yang sedang terjadi?
Jika maut sebagai musuh terakhir saja sudah dikalahkan Yesus, maka ancaman perang sehebat apa pun tidak berhak merampas damai sejahtera kita.
Percayalah bahwa Dia adalah Imanuel (Allah menyertai kita).
Hiduplah sebagai orang merdeka yang tetap tenang, tidak perlu panik, stress apalagi frustasi menghadapi hidup dan masa depan, sebab kedaulatan Kristus jauh melampaui kuasa manapun di dunia ini.

Diskusikan dalam kelompok PA atau persekutuan kita, hal apa yang kita pelajari dan renungkan dari bahan pembacaan renungan kita hari ini?
Pembacaan Alkitab Setahun
2 Samuel 4-7