KEBERANIAN UNTUK MEMBERITAKAN INJIL
Penulis : Pramadya Wisnu

Pembacaan Alkitab Hari ini :
EFESUS 6:18-20
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Siapa saja kah yang patut kita doakan dalam waktu doa syafaat kita?
- Apakah saat ini kehidupan doa kita sudah menjadi gaya hidup yang berjaga-jaga, atau masih sebatas kebutuhan saat terdesak saja?

Efesus 6 dimulai dari ayat yang ke-6, kita diajar tentang perlengkapan senjata Allah.
Dan Rasul Paulus menutup pengajarannya tentang perlengkapan senjata Allah, yaitu antara lain tentang ikat pinggang kebenaran, perisai iman, dan pedang Roh, ia menambahkan satu unsur yang sangat menentukan: doa.
Paulus kemungkinan besar sedang ada di penjara ketika dia menulis kitab Efesus ini (lihat. Efesus 6:20).
Tetapi Paulus justru tidak meminta doa agar dibebaskan, melainkan agar ia diberi keberanian untuk memberitakan Injil.
Paulus menempatkan doa sebagai dasar peperangan rohani.
Keberanian Paulus bukan hasil karakter alami, melainkan hasil dari upaya untuk terus menerus bergantung kepada Allah.
Paulus adalah seorang rasul yang jika kita membaca kesaksiannya dalam memberitakan Injil, sepertinya Paulus seorang yang tidak kenal takut.
Tetapi disini kita membaca, bahwa seorang Paulus dengan rendah hati meminta agar jemaat mendoakan dia.
Maknanya kita semua membutuhkan untuk didoakan, artinya kita juga sangat perlu untuk saling mendoakan.
Kita butuh didoakan, dalam konteks ayat yang telah kita baca, agar kepada kita diberikan keberanian untuk memberitakan Injil.
Mengapa butuh keberanian, karena ada risiko dari pemberitaan Injil.
Paulus dan para murid sangat memahami risiko itu, bahkan sebagian besar dari mereka harus membayar usaha mereka dalam memberitakan Injil dengan nyawa mereka.
Saat ini risiko dalam memberitakan Injil tetap ada sekalipun berbeda dengan situasi pada gereja yang mula-mula.
Di Indonesia ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1979 yang isinya antara lain: Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang,…
Atas dasar itu betapa kita perlu sungguh bergantung kepada Tuhan ketika kita akan memberitakan Injil, memohon Roh Kudus memberi kita keberanian dan juga hikmat.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (lihat. Matius 10:16).
Artinya kita bisa tetap setia memberitakan Injil, tetapi melakukannya dengan hikmat yang Roh Kudus berikan, mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan keberanian, hikmat dan mohon Roh Kudus menyiapkan orang yang akan kita injili.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan kapan engkau terakhir bersaksi dan menceritakan kasih Yesus?
Pembacaan Alkitab Setahun
1 Samuel 21-24