BERSAKSI DARI PERSEKUTUAN DENGAN ROH KUDUS
Penulis : Pdt. Robinson Saragih

Pembacaan Alkitab Hari ini :
1 YOHANES 1:1-4
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Apa yang sudah ada sejak semula?
- Apa yang telah dilihat oleh Yohanes?
- Apa yang disaksikan oleh Yohanes?
- Apa tujuan Yohanes menuliskan kesaksiannya?

Saudara, kesaksian Kristen bukan hanya lahir dari pengetahuan atau sekadar hasil membaca Alkitab.
Kesaksian yang paling baik adalah kesaksian yang lahir dari pengalaman kita bersama Tuhan, dari perenungan firman Tuhan, dari ketaatan kepada firman Tuhan, dari menaati perintah Tuhan, serta dari kepekaan mendengarkan suara Roh Kudus di dalam hati kita.
Rasul Yohanes memberikan kesaksian yang dituliskan dalam bagian firman yang kita pelajari ini:
1 Yohanes 1:1-4 “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.”
Saudara, dari bagian firman ini kita mendapatkan pengajaran bahwa kesaksian berasal dari pengalaman langsung.
Seperti Yohanes, ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, Sang Mesias yang dijanjikan.
Yohanes mengetahui bahwa akan datang seorang yang diurapi, yaitu Mesias yang telah dinubuatkan sejak Kejadian 3:15.
Kitab Yesaya juga menuliskan banyak nubuat tentang Mesias, bahkan biografi Yesus sejak kelahiran hingga kematian-Nya.
Para rasul, murid-murid Yesus, adalah saksi utama yang hidup bersama Dia selama kurang lebih tiga setengah tahun pelayanan-Nya.
Karena itu, Yohanes dapat berkata: “yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup.”
Itu adalah pengalaman pribadi yang tidak dapat disangkal, autentik, asli, dan tak terbantahkan.
Kisah Para Rasul 2:29-33 “Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”
Dengan jelas dan tegas Rasul Petrus menyatakan bahwa para murid adalah saksi kebangkitan Yesus dari kematian.
Oleh karena itu, Tuhan juga menghendaki kita sama seperti para murid Yesus Kristus, mau dan rela menjadi saksi Kristus.
Kita dapat bersaksi melalui pengalaman pribadi kita bersama Roh Kudus, yang menjadikan firman tertulis (logos) menjadi firman yang hidup (rhema) bagi kita.
Sebagai orang-orang kudus Allah, hari ini menjadi saksi Kristus lewat pengalaman pribadi dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus.
Melalui perenungan firman Tuhan, firman itu menjadi nyata dan membangkitkan iman percaya kita kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Rasul Paulus juga menuliskan kebenaran tentang bagaimana seseorang diselamatkan melalui pendengaran akan firman kebenaran:
Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”
Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Efesus 3:17 “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.”
Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita, maka kita dapat berhubungan dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Ketika kita merenungkan firman tertulis (logos), Roh Kudus menolong kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Bapa dan Yesus Kristus.
Dari situlah lahir pengalaman pribadi yang dapat kita sampaikan sebagai kesaksian.
Pada gereja mula-mula, para rasul bersaksi tentang pengalaman mereka sendiri tentang perjumpaan mereka dengan Tuhan Allah yang menjadi manusia, yaitu Mesias yang dijanjikan.
Bagaimana dengan kita saat ini?
Kesaksian apa yang dapat kita sampaikan sebagai hasil perjumpaan kita dengan Tuhan?
Setelah Roh Kudus berdiam di dalam hati kita, perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup kita?
Apa yang dapat kita ceritakan sebagai kesaksian yang autentik sebagai bukti anugerah dan kasih karunia Bapa yang kita alami pada masa ini?
Setelah puluhan tahun mengikut Kristus, saya mengalami banyak pemulihan dalam hidup.
Saya berasal dari latar belakang keluarga dengan berbagai kutuk karena dosa turunan yang dahulu sangat memalukan untuk diceritakan.
Namun puji Tuhan, saya telah dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa turunan tersebut, baik dari pihak ayah maupun ibu saya.
Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena boleh memasuki masa pensiun dari pelayanan kepenatuaan di GKKD-BP dan menyerahkan kepemimpinan kepada anak-anak rohani yang kini menjadi penatua menggantikan saya.
Mereka bahkan melayani dengan lebih baik.
Dahulu saya sering berkata bahwa saya hanyalah seperti “tidak ada rotan, akar pun jadi.”
Saya menyadari bahwa saya bukan seorang yang memiliki karunia kepemimpinan.
Namun Tuhan menolong dan memampukan saya hingga mencapai masa pensiun sesuai usia yang telah ditetapkan.
Hal ini menjadi bukti bahwa gereja kita adalah gereja yang memuridkan, ada generasi yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan.
Sistem yang dibangun memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mendapatkan kesempatan.
Dengan demikian, anak-anak dan adik-adik rohani terdorong untuk berdoa, melayani dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin di berbagai lini pelayanan.
Semua itu terjadi karena pergaulan dengan Roh Kudus dan kerelaan untuk membuka peluang bagi anak-anak rohani menggantikan bapak rohani.
Pergantian itu bukan karena pendisiplinan, melainkan karena kesadaran akan waktu, masa pensiun, dan kerelaan untuk melepaskan kedudukan sebagai eksekutif di gereja.
Roh Kudus akan terus menuntun gereja kita, GKKD-BP, untuk mencapai visi mula-mula yang Tuhan anugerahkan sebagai gereja yang berdoa, bermisi dan memuridkan.
Bahkan ke depan, kiranya gereja ini semakin maju dan terbuka, menjadi gereja yang giat melakukan pemuridan serta memberitakan Injil Kerajaan Allah, Injil keselamatan, kepada bangsa kita maupun kepada bangsa-bangsa.
Amin. Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Mengapa ada pemimpin di gereja yang tidak mau melepaskan jabatannya sebagai pemimpin utama?
Pembacaan Alkitab Setahun
Yosua 19-21