MEMIKUL SALIB DAN MENGIKUT KRISTUS

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 16:24-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Kepada siapa Yesus menyampaikan perkataan-Nya dalam ayat-ayat firman Tuhan ini?
  2. Dalam mengikut Yesus, apa yang harus disangkal atau ditiadakan?
  3. Bagaimana cara menyelamatkan nyawa kita?
  4. Apa upah bagi mereka yang kehilangan nyawa mereka?
  5. Apa yang dapat kita berikan sebagai ganti nyawa kita?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya:

Matius 16:24-26 “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Dengan lugas, Yesus menyampaikan pernyataan seperti yang tertulis dalam ayat firman Tuhan di atas.

Bagaimana sikap kita terhadap pernyataan Yesus ini?

Saudara, menyangkal diri berarti meniadakan keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita.

Karena itu, kita perlu bergaul dengan Tuhan supaya kita mengerti apa yang harus kita sangkal dari diri kita sendiri.

Apakah itu keinginan, cita-cita, mimpi-mimpi kita, atau hal-hal lain yang Tuhan minta untuk kita?

Jika kita renungkan, Tuhan menginginkan seluruh hidup kita. Tuhan ingin agar kita mengikut Dia, seperti murid-murid-Nya.

Yesus berkata kepada Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Natanael, serta Lewi atau Matius, pemungut cukai, “Ikutlah Aku.”

Dan mereka semua mengikut Yesus serta meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia.

Para nelayan itu dipanggil supaya mereka dijadikan penjala manusia. Kepada Filipus dan Natanael, Yesus menyatakan:

Yohanes 1:45-51 “Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Saudara, kepada murid-murid-Nya Yesus menyatakan segala sesuatu bukan dengan perumpamaan atau teka-teki, melainkan dengan cara yang berterus terang, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir, kecuali untuk perumpamaan tentang ragi orang Yahudi:

Markus 8:14-21 “Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

Saudara, ketika Yesus berbicara tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes, para murid justru membicarakan soal tidak membawa roti.

Terjadi kesalahpahaman, karena mereka menganggap ragi identik dengan roti sebagai makanan.

Padahal, mereka sudah mengalami sendiri bahwa kekurangan roti tidak pernah menjadi masalah dalam pelayanan Yesus Kristus, sebab Yesus selalu mampu melakukan mujizat.

Ragi yang dimaksud adalah pengaruh kejahatan atau pencemaran terhadap ajaran yang benar.

Misalnya, ragi orang Farisi menunjuk pada tradisi keagamaan mereka ketika tradisi tersebut mengesampingkan perintah Allah yang benar, sehingga bagian-bagian dari firman dan kehendak-Nya tidak lagi berlaku:

Markus 7:5-13 “Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

Saudara, ragi orang Farisi adalah legalisme. Seorang legalis menggantikan sikap batin yang seharusnya lahir dari kelahiran baru dan karya Roh Kudus dengan perbuatan atau perkataan yang bersifat lahiriah.

Orang seperti ini memuliakan Tuhan Allah dengan bibir, tetapi hatinya jauh dari Dia.

Dari luar mereka tampak benar, namun sesungguhnya hati mereka tidak mengasihi Tuhan.

Saudara, Tuhan Yesus dengan lugas menyatakan:

Lukas 9:23-25 “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

Saudara, Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya rela memikul salib dan mengikut Dia.

Bagaimana hal ini bagi kita pada hari ini? Salib apa yang sedang kita pikul saat ini?

Apakah itu salib yang kita ciptakan sendiri karena kesalahan kita?

Tuhan ingin kita memikul salib Kristus dan mengikut Dia.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Salib apa yang harus kita pikul saat ini agar kita dapat mengikut Yesus dengan setia?

Pembacaan Alkitab Setahun

Bilangan 5-6