KEMERDEKAAN MENUJU KEMULIAAN YANG SEMAKIN BESAR

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 3:16-18

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa syaratnya, jika selubung itu bisa diambil?
  2. Apa yang dimaksud selubung atau veil dalam konteks ayat 16?
  3. Dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan. Apa yang dimaksud kata “Merdeka” tersebut?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Latar belakang Rasul Paulus menuliskan surat 2 Korintus 3, salah satunya adalah untuk menjelaskan perbedaan Perjanjian Lama (“hukum Taurat”) yang menuntut, memberi kesadaran akan dosa, tetapi menghukum karena manusia tidak sanggup memenuhinya.

Dan Perjanjian Baru (melalui Kristus dan Roh Kudus) yang tidak hanya memberi hukum, tetapi mengubah hati.

Setelah Musa berjumpa dengan Allah di gunung sinai dan turun kembali untuk berjumpa dengan orang Israel, mukanya bercahaya, sehingga ia menggunakan kain selubung atau “veil” untuk menutupi wajah fisiknya yang bercahaya itu, agar bangsa Israel tidak takut dan dapat mendekat kepadanya.

Bangsa Israel  tidak tahu bahwa cahaya itu bersifat sementara dan akan memudar.

Hanya Musa yang sadar bahwa kemuliaan itu bersifat sementara. Paulus kemudian menafsirkan selubung ini sebagai simbol hati yang tertutup terhadap pengenalan akan Kristus, karena mereka tidak “melihat kemuliaan yang kekal”.

Ayat 16 menyatakan bahwa ketika seseorang “berbalik kepada Tuhan,” maka selubung itu diambil. Ini berarti hanya orang yang mau bertobat dan percaya kepada Kristus anak Allah yang hidup, maka penghalang itu akan disingkirkan dari padanya.

Penyingkapan selubung ini bisa terjadi karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita.

Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Sehingga kita bebas dari dosa dan perbudakan maut.

Bebas untuk memandang dan mendekat kepada Allah tanpa rasa takut seperti yang dialami Musa di atas gunung.

Kita bebas untuk mengenal Dia dan mengalami perubahan hidup yang sejati.

Berbeda dengan wajah Musa yang cahayanya semakin redup, kemuliaan dalam diri orang percaya bersifat dinamis dan semakin meningkat kian hari.

Memang perubahan ini tidak serta merta terjadi begitu saja.

Perubahan ini memerlukan waktu dan proses dari satu tahap kemuliaan ke tahap berikutnya.

Kuncinya sederhana, yaitu seberapa besar kemauan kita untuk mengenal Dia setiap hari?

Dan seberapa besar kita menumbuhkan didalam hati kita Rasa Lapar dan Haus akan Firman Tuhan setiap hari?

Dengan sikap demikian, maka kita akan mengalami kemerdekaan dan keserupaan dengan Kristus.

Diskusikan bagaimana caranya agar selubung atau veil dalam hati kita bisa tersingkap, sehingga setiap hari kita mengenal Dia lebih dalam?

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 19-21