DIBERI KUASA MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YOHANES 1:12-14

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa makna menjadi anak Allah bagi orang yang menerima Yesus dan percaya dalam nama-Nya?
  2. Bagaimana makna pernyataan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia” dan dampaknya terhadap hubungan antara Allah dan manusia?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Kita semua terlahir dalam kondisi telah berdosa karena kita mewarisi dosa Adam, itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan upah dosa adalah maut atau kematian kekal. (Lihat Roma 3:23 dan Roma 6:23)

Itulah alasan Bapa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk turun ke bumi, mati disalibkan agar kita yang percaya, yang selayaknya mati karena dosa, kita dapat memperoleh pengampunan dosa, dipindahkan dari maut kepada kehidupan yang kekal bersama dengan Kristus.

Yohanes 1:12  “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”

Bagi kita umat percaya, Firman Allah menyatakan bahwa kita diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.

Apa artinya?

Kata kuasa di sini bukan terutama berarti kekuatan fisik atau kuasa mujizat, melainkan: hak yang sah dan otoritas yang diberikan Allah.

Artinya adalah bahwa Allah mengizinkan, Allah menetapkan, Allah mengakui secara resmi bahwa orang percaya menjadi milik-Nya dan bagian dari keluarga-Nya.

Jadi, kuasa ini adalah status rohani yang sah di hadapan Allah.

Sebagai anak Allah, umat percaya juga memiliki kuasa berupa:

  • Hak mendekat kepada Bapa (kita berdoa tanpa perantara manusia)
  • Hak menerima kasih dan pemeliharaan Allah (bukankah ini anugerah yang luar biasa!)
  • Hak warisan rohani (janji, pengharapan, hidup kekal)
  • Hak hidup dalam kasih karunia, bukan penghukuman (terima kasih Tuhan Yesus untuk pengorbanan-Mu di kayu salib)

Jadi, kuasa tersebut bukanlah kuasa untuk menyombongkan diri, tetapi jaminan bahwa kita diterima sepenuhnya.

Jika umat percaya sadar bahwa kita diberi kuasa, maka: Kita tidak hidup sebagai orang yang takut dan rendah diri, kita tidak lagi diperbudak rasa bersalah masa lalu, kita hidup dengan keberanian dan kepastian jati diri kita.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apa yang patut kita lakukan setelah kita menyadari identitas rohani kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 1-4