HIDUP SEBAGAI ANAK ALLAH

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

ROMA 8:15–17

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Syarat apa yang membuat status kita bukan lagi budak, melainkan kita diadopsi menjadi anak Allah? (ayat 14)
  2. Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Alah?
  3. Apa yang seharusnya kita lakukan, jika kita sudah diadopsi sebagai anak Allah?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Jika ada pertanyaan, siapakah yang mau menjadi anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden? Kemungkinan besar kita semua akan menjawab “Ya..saya mau”.

Kenapa banyak orang yang menjawab mau? Karena di pikiran kita atau sejauh mata memandang, anak orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden itu hidupnya dijamin enak, tidak perlu capek bekerja karena semua kebutuhan sudah tersedia, punya banyak uang dan bebas membeli apa yang kita suka tanpa bekerja keras, bebas bepergian kemana saja kita mau dan dikenal serta dihormati orang banyak.

Jika di pikirkan, hal yang wajar anak-anak tersebut mendapat privilege atau keistimewaan semua itu, karena mereka adalah anak dari orang kaya, anak Sultan atau anak Presiden.

Begitu pula dengan pembacaan Firman hari ini menjelaskan, “semua orang  dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah” (ayat 14).

Kita yang adalah makhluk ciptaan Allah dan sejak lahir status kita orang yang berdosa dan patut kena hukuman, oleh karena anugerahNya yang besar kita di angkat “di adopsi”  menjadi anak-anak Allah dan kita menjadi ahli waris janji-janji Allah.

Ini adalah sebuah proses yang luar biasa dan penuh kasih, yang memberikan kita keistimewaan dan kesempatan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga Allah.

Sehingga kita dapat berseru “ya Abba ya Bapa”.

Dalam budaya Yahudi, “Abba” adalah kata yang digunakan oleh anak-anak untuk memanggil ayah mereka, menunjukkan hubungan yang sangat dekat dan intim.

Dan karena itu sepatutnyalah kita bisa bersikap layaknya hidup sebagai anak Allah.

Namun demikian dalam prakteknya sering kali kita belum atau lalai menunjukkan dan bersikap seperti anak Allah.

Seringkali tutur kata kita, tindakan kita tidak mencerminkan bahwa kita anak Allah. Hari – hari ini, orang yang belum percaya kepada Kristus, mereka hidup sesuka mereka, bebas melakukan apa saja yang mereka suka, demi gaya hidup, juga demi kebutuhan hidup mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Saat ini sebagai anak-anak Tuhan seharusnya kita menjadi teladan dan contoh yang baik yang menunjukkan bahwa kita adalah anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah.

Karena dunia sangat membutuhkan contoh atau role model yang nyata bagi mereka.

Dengan mengetahui bahwa status kita saat ini bukan lagi hamba melainkan anak-anak Allah, sikap apa yang harus kita lakukan agar sekitar kita mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah yang mewarisi sifat-sifat Allah?

Pembacaan Alkitab Setahun

Kejadian 27-29