JIKA ALLAH DI PIHAK KITA, SIAPAKAH LAWAN KITA?
Penulis : Pramadya Wisnu

Pembacaan Alkitab Hari ini :
ROMA 8:31-34
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Apakah alasan sehingga kita tidak perlu hidup dalam ketakutan akan tuduhan dan penghukuman?
- Apa langkah nyata yang dapat kita lakukan ketika menghadapi kegagalan dan rasa bersalah?

Setiap kita pasti pernah menghadapi tantangan dan pergumulan dalam kehidupan.
Ada saat ketika kita menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, penyakit, kegagalan, atau perlakuan tidak adil dari orang lain.
Dalam keadaan tertentu, kita bahkan dapat merasa sendirian, seolah-olah tidak ada seorang pun yang memahami dan mendukung kita.
Ketika menghadapi keadaan seperti itu, muncul pertanyaan: Siapakah yang dapat menolong kita? Bagaimana kita dapat tetap kuat ketika menghadapi begitu banyak tantangan?
Firman Tuhan dalam Roma 8:31b “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
Pernyataan ini bukan berarti orang percaya tidak akan mengalami kesulitan atau tidak mempunyai musuh.
Paulus, penulis kitab Roma, mengalami penganiayaan, penderitaan, dan berbagai ancaman dalam pelayanannya.
Namun, ia mengetahui bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menggagalkan tujuan akhir Allah bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
Allah di pihak kita tidak berarti Allah selalu menyetujui semua keinginan kita atau akan memberikan apa pun yang kita minta.
Faktanya adalah, Allah telah bertindak bagi keselamatan kita melalui Yesus Kristus dan tetap setia menggenapi tujuan-Nya dalam kehidupan umat-Nya.
Kebenaran ini mengubah cara kita memandang masalah.
Kita tidak lagi menghadapi kehidupan hanya berdasarkan kekuatan, kemampuan, atau sumber daya yang kita miliki.
Kita menghadapi kehidupan dengan keyakinan bahwa Allah menyertai dan menuntun kita.
Firman Tuhan juga menyatakan bahwa Allah, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Jika Allah telah menyerahkan Anak-Nya sendiri demi keselamatan kita, maka kita mempunyai alasan yang kuat untuk mempercayai kebaikan dan kesetiaan-Nya.
Ayat ini bukan janji bahwa Allah akan memberikan semua barang, kekayaan, jabatan, atau kenyamanan yang kita inginkan.
Ungkapan “segala sesuatu” perlu dipahami dalam konteks karya keselamatan dan tujuan Allah bagi umat-Nya.
Allah mengetahui kebutuhan kita, tetapi Ia juga mengetahui apa yang benar-benar kita perlukan untuk bertumbuh dalam iman dan menjalani kehendak-Nya.
Ada kalanya Tuhan membuka jalan yang tidak kita duga.
Ada kalanya Ia memberi kekuatan untuk bertahan ketika jalan keluar belum terlihat.
Ada pula saat ketika Ia mengajar kita melalui proses yang tidak mudah.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan pengalamanmu ketika engkau menghadapi kesulitan, apa yang biasanya engkau lakukan.
Pembacaan Alkitab Setahun
Lukas 21-22