HIDUP DALAM AJARAN YANG MENYELAMATKAN

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 TIMOTIUS 4:12-16

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Dalam hal apa saja Timotius harus menjadi teladan menurut ayat 12?
  2. Mengapa Paulus menekankan pentingnya “mengawasi diri sendiri dan ajaran” (ayat 16)?
  3. Bagaimana hidup yang benar dapat “menyelamatkan” diri sendiri dan orang lain?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“…Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12).

Timotius adalah seorang pemimpin muda di tengah jemaat yang mungkin berisi orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman.

Di zaman itu, usia sangat dihormati, dan seorang muda bisa dengan mudah diabaikan atau diragukan.

Tetapi Paulus tidak ingin Timotius mundur karena usianya. Ia berkata, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.”

Sebaliknya, Timotius dipanggil untuk menjadi teladan. Ini adalah pelajaran bagi kita semua, baik muda maupun tua: usia bukan penghalang untuk melayani Tuhan.

Yang penting bukan berapa umur kita, tetapi bagaimana kita hidup.

Tuhan memakai siapa saja yang mau dipakai, asalkan hidupnya berkenan kepada-Nya.

Integritas hidup adalah kunci pelayanan yang berkenan kepada Tuhan.

Paulus menyebut lima area di mana Timotius harus menjadi teladan: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian.

Artinya, pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita katakan dari mimbar, tetapi tentang bagaimana kita hidup sehari-hari.

Orang tidak akan mendengarkan ajaran kita jika hidup kita tidak sesuai dengan ajaran itu.

Seorang guru yang mengajarkan kejujuran tetapi berbohong akan kehilangan wibawa.

Seorang pemimpin yang mengajarkan kasih tetapi kasar kepada keluarganya akan diragukan.

Karena itu, sebelum kita berbicara tentang kebenaran, kita harus lebih dulu menghidupinya.

Hidup yang benar adalah “khotbah” yang paling kuat.

Ketekunan dalam firman dan ajaran yang benar membawa keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain.

Paulus berkata, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.

Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau.”

Ini bukan berarti kita diselamatkan oleh perbuatan baik, tetapi hidup yang tekun dalam firman menunjukkan bahwa iman kita sungguh-sungguh hidup.

Guru yang setia akan menjaga hidupnya sendiri dan ajarannya, sehingga ia tidak menyesatkan orang lain.

Sebaliknya, ajaran yang salah dapat menyesatkan banyak orang.

Karena itu, kita harus rajin membaca firman, merenungkannya, dan mengajarkannya dengan benar.

Dengan demikian, kita menjadi saluran berkat dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Jadilah Teladan di Lingkungan Terdekat.

Mulailah dari rumah, pekerjaan, atau sekolah.

Perhatikan perkataanmu—apakah membangun atau menyakiti?

Perhatikan tingkah lakumu—apakah jujur dan penuh kasih?

Perhatikan kesetiaanmu—apakah bisa dipegang janjinya?

Mintalah Roh Kudus menolongmu untuk hidup benar, bukan hanya di depan orang, tetapi juga saat tidak ada yang melihat.

Kedua, Bertekunlah dalam Firman Setiap Hari.

Jangan hanya membaca Alkitab saat ada waktu luang.

Jadwalkan waktu khusus untuk membaca, merenungkan, dan mempraktikkan firman.

Jika kamu seorang pengajar atau pemimpin, pastikan ajaranmu sesuai dengan Alkitab.

Jangan malas belajar dan berdoa.

Dengan tekun, hidupmu akan bertumbuh, dan orang lain akan diberkati melalui dirimu.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana hubungan antara integritas dan ketekunan mempelajari Alkitab.

Pembacaan Alkitab Setahun

Markus 12-13