IMAN YANG MENJAMAH JUBAH YESUS

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MARKUS 5:25-29

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Berapa lama perempuan dalam perikop yang kita baca hari ini mengalami perdarahan?
  2. Apa saja yang telah diusahakannya demi menyembuhkan penyakitnya?
  3. Apa yang dia putuskan untuk dilakukan ketika mendengar kabar tentang Yesus?
  4. Apakah penyakitnya sembuh?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Markus 5:25–29 membawa kita kepada seorang perempuan yang selama dua belas tahun mengalami pendarahan.

Menurut Imamat 15:25–27, pendarahan berkepanjangan membuat seorang perempuan berada dalam keadaan najis secara ritual.

Kondisi tersebut membatasi partisipasinya dalam kehidupan ritual dan membuat apa yang disentuhnya menjadi najis menurut ketentuan Taurat.

Dua belas tahun bukan waktu yang singkat; Markus bahkan mengatakan bahwa ia telah berulang kali ditangani banyak tabib, menghabiskan seluruh miliknya, tetapi keadaannya justru semakin buruk.

Di tengah keputusasaan itu ia “mendengar berita-berita tentang Yesus” dan berkata, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Menurut logika kenajisan ritual yang dianut orang Yahudi, sentuhannya seharusnya membuat orang lain najis; tetapi ketika ia menjamah Yesus, arah pengaruh itu seolah dibalik: bukan kenajisan perempuan itu yang menguasai Yesus, melainkan kuasa Kristus yang membawa pemulihan kepadanya.

Ia datang tanpa status, tanpa kekayaan, bahkan tanpa keberanian untuk berbicara langsung kepada Yesus.

Yang dimilikinya hanyalah keyakinan sederhana: jika aku dapat datang kepada-Nya, masih ada pengharapan.

Dunia modern memiliki rumah sakit yang lebih maju, obat-obatan yang lebih efektif, dan teknologi diagnostik yang tidak pernah dibayangkan masyarakat abad pertama.

Ada orang yang bertahun-tahun menjalani pengobatan; ada yang kehabisan sumber daya; ada pula yang tampak sehat tetapi menyimpan luka, kecemasan, kesepian, atau pergumulan keluarga yang panjang.

Namun kisah ini tidak mengajarkan bahwa pengobatan harus ditinggalkan dan diganti dengan iman.

Alkitab justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: ketika kemampuan manusia mencapai batasnya, pengharapan kepada Tuhan tidak harus ikut berakhir.

Iman perempuan itu bukan kekuatan magis yang berada pada kain jubah Yesus.

Karena itu, pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar, “Apakah saya percaya bahwa Yesus dapat melakukan mukjizat?” tetapi, “Ketika pergumulan berlangsung lama, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?” Dua belas tahun penderitaan dapat membuat seseorang berhenti berharap.

Mungkin kita pun mempunyai “dua belas tahun” kita sendiri: doa yang belum terjawab, penyakit yang belum pulih, keluarga yang belum berubah, pelayanan yang terasa tidak berbuah, atau persoalan yang berulang kali membuat kita kecewa.

Perempuan itu mengajarkan bahwa iman tidak selalu tampil dalam tindakan spektakuler; terkadang iman hanyalah keberanian untuk mengambil satu langkah lagi menuju Kristus ketika semua alasan mengatakan untuk menyerah.

Datanglah kepada-Nya secara pribadi.

Sebab iman bukan sekadar mengetahui bahwa Yesus berkuasa; iman adalah keberanian untuk mendekat kepada-Nya dan mempercayakan hidup kita kepada kuasa, kasih, dan kehendak-Nya.

Renungkan dan diskusikan untuk menjawab pertanyaan ini : “Ketika pergumulan berlangsung lama, dan sudah banyak hal yang saudara lakukan demi kesembuhan, apakah saya masih mau datang kepada Yesus?”

Pembacaan Alkitab Setahun

Matius 20-21