DOA, PENGAKUAN DAN JALAN MENUJU KESEMBUHAN

Penulis : Bernard Tagor

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

YAKOBUS 5:13-16

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang harus dilakukan ketika kita sedang menderita?
  2. Apa yang harus dilakukan ketika kita sedang sakit?
  3. Mengapa kita perlu saling mengaku dosa dan saling mendoakan?
  4. Apa yang diajarkan Yakobus tentang kuasa doa orang benar?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada orang-orang percaya yang tersebar dan sedang menghadapi berbagai pencobaan, penderitaan, konflik, serta pergumulan dalam kehidupan iman.

Karena itu, Yakobus menekankan bahwa iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika jemaat menghadapi penderitaan, sukacita, maupun sakit.

Nasihat dalam Yakobus 5:13–16 merupakan kelanjutan dari seruan untuk bertekun dalam penderitaan dan menantikan belas kasihan Tuhan (Yak. 5:7–11).

Dalam keadaan apapun, jemaat dipanggil untuk membawa pergumulan kepada Allah melalui doa dan hidup yang bergantung kepadaNya, bukan mengandalkan kekuatan sendiri.

Yakobus menegaskan bahwa orang yang menderita harus berdoa, yang bergembira menyanyikan puji-pujian, dan yang sakit memanggil para penatua jemaat untuk mendoakannya serta mengolesinya dengan minyak dalam nama Tuhan (ay. 13–14).

Doa yang lahir dari iman tidak berarti manusia dapat memaksa Allah memberikan kesembuhan sesuai keinginannya, sebab kuasa doa tidak terletak pada teknik dan intensitas doa, atau kekuatan iman manusia, melainkan pada Allah yang berdaulat dan berkenan bertindak melalui doa umatNya.

Tuhanlah yang menyelamatkan dan membangunkan orang sakit itu (ay.15).

Pengakuan dosa dalam ayat 16 menunjukkan bahwa kehidupan doa tidak terlepas dengan pertobatan dan pemulihan relasi di dalam jemaat.

Untuk menjelaskan kuasa doa, Yakobus menggunakan kisah Nabi Elia sebagai contoh dari 1 Raja-raja 17–18, ketika Elia berdoa dan Tuhan menghentikan serta kemudian menurunkan hujan.

“Doa orang benar” menunjuk kepada orang yang dibenarkan oleh iman dan hidup dalam pertobatan, bukan orang yang tanpa dosa.

Dengan demikian, Yakobus mengarahkan jemaat untuk melihat doa sebagai sarana yang Allah pakai untuk menyatakan kehendak dan kuasaNya dalam kehidupan umatNya.

“Doa, pengakuan dan jalan menuju kesembuhan” mengingatkan kita untuk membawa sakit dan setiap pergumulan kepada Tuhan, melibatkan persekutuan jemaat, serta dengan rendah hati mengakui dosa dan bertobat dari kehidupan yang tidak berkenan kepadaNya.

Kita tetap boleh memohon kesembuhan jasmani dengan sungguh-sungguh, tetapi iman bukanlah tuntutan agar Allah harus memenuhi keinginan kita.

Iman berarti percaya bahwa Allah berkuasa menyembuhkan dan kehendakNya selalu baik, sekalipun jawabanNya berbeda dari yang kita harapkan.

Karena itu, jemaat dipanggil untuk saling mendoakan, hidup dalam kekudusan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada kedaulatan Tuhan.

Kesembuhan yang kita harapkan bukan hanya berhenti pada pemulihan tubuh saja, tetapi juga hati yang semakin tunduk kepada Allah dan kehidupan yang semakin bergantung kepadaNya.

Ketika menghadapi sakit dan penderitaan, apakah iman kita tetap percaya pada kuasa Tuhan, tunduk pada kedaulatanNya, dan menyerahkan hasilnya kepada kehendakNya? Diskusikan bersama dalam kelompok PA atau persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Matius 15-17