KAYA DALAM KEMURAHAN

Penulis : Pramadya Wisnu

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 KORINTUS 8:1-5

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang menjadi sumber sukacita jemaat Makedonia dalam memberi sekali pun mereka sendiri sedang mengalami kesulitan?
  2. Mengapa jemaat Makedonia dapat memberi bukan hanya menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Dunia sering mengukur kekayaan berdasarkan apa yang dimiliki seseorang: uang, harta, jabatan, bisnis, atau aset.

Namun Alkitab memperkenalkan ukuran kekayaan yang berbeda.

Seseorang mungkin tidak memiliki banyak secara materi, tetapi dapat menjadi kaya dalam kemurahan hati.

Dan hal-hal seperti itulah yang kita tangkap ketika kita membaca kisah jemaat Makedonia.

Jemaat Makedonia berada dalam keadaan yang sulit.

Mereka mengalami penderitaan dan kemiskinan yang berat.

Namun Paulus mengatakan bahwa mereka “kaya dalam kemurahan.”

Ini merupakan sebuah paradoks. Secara materi mereka miskin, tetapi secara rohani mereka kaya.

Dunia berkata: “Saya akan memberi jika saya memiliki cukup banyak uang.”

Tetapi jemaat Makedonia menunjukkan: “Saya dapat memberi karena Tuhan telah lebih dahulu memberkati saya.”

Kekayaan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita simpan, tetapi juga dari apa yang dengan rela kita bagikan.

Dari jemaat Makedonia, kita belajar hubungan antara penderitaan, kemiskinan, dan sukacita.

Mereka sedang mengalami kesulitan, tetapi sukacita mereka tetap meluap.

Ini menunjukkan bahwa sukacita mereka tidak bersumber dari keadaan ekonomi.

Sukacita mereka bersumber dari Tuhan.

Ketika seseorang memahami kasih karunia Allah, keadaan hidup tidak lagi menjadi satu-satunya dasar sukacitanya.

Karena itu, kemurahan hati tidak harus menunggu kehidupan ekonomi kita mapan.

Jemaat Makedonia memberikan dengan sungguh-sungguh.

Namun bagian ini tidak berarti bahwa setiap orang harus memberi secara tidak bertanggung jawab atau memaksakan diri hingga mengabaikan kebutuhan dasar keluarganya.

Prinsip yang dapat kita lihat adalah kerelaan dan pengorbanan.

Mereka tidak berkata: “Saya tidak punya banyak, jadi saya tidak bisa memberi.”

Mereka bertanya: “Dengan apa yang Tuhan percayakan kepada saya, bagaimana saya dapat menjadi berkat?”

Jadi kemurahan hati selalu dimulai dari apa yang ada di tangan kita.

Belajar dari Jemaat Makedonia, sebelum memberikan harta, mereka memberikan diri kepada Tuhan.

Ketika hidup seseorang sudah diserahkan kepada Tuhan, maka harta, waktu, tenaga, kemampuan, dan seluruh sumber daya yang dimilikinya juga dipandang sebagai milik Tuhan.

Karena itu pertanyaannya bukan lagi: “Berapa banyak yang boleh saya berikan?”

Tetapi: “Bagaimana semua yang Tuhan percayakan kepada saya dapat dipakai untuk kemuliaan-Nya?”

Saudara, dalam kelompok pemuridan, diskusikan apakah keadaan ekonomi harus membaik terlebih dulu sebelum engkau memutuskan untuk bermurah hati kepada orang lain?

Pembacaan Alkitab Setahun

Matius 1-4