JANGAN BIARKAN KEKAYAAN MENGUASAI HATI

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

1 TIMOTIUS 6:8-10

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” dalam 1 Timotius 6:8?
  2. Mengapa Paulus memperingatkan tentang cinta uang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Setiap pagi kita bangun, bersiap, dan pergi bekerja.

Mengapa kita melakukan rutinitas itu? Bagi sebagian besar orang, jawaban jujurnya adalah untuk mencari uang demi menyambung hidup.

Mencari nafkah adalah hal yang baik dan merupakan mandat dari Tuhan.

Namun, Rasul Paulus memberikan peringatan  mengenai bahaya yang mengintai di balik motivasi bekerja: ketika fokus kita bergeser dari bekerja untuk Tuhan menjadi bekerja untuk mengejar kekayaan.

Paulus memulainya dengan sebuah kalimat yang sangat sederhana namun radikal: “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”

Di zaman modern yang penuh dengan budaya konsumtif ini, kata “cukup” menjadi barang langka.

Kita sering kali gagal membedakan antara kebutuhan (apa yang diperlukan untuk hidup) dan keinginan (apa yang memuaskan ego kita).

Ketika kita kehilangan rasa cukup, pekerjaan tidak lagi menjadi ladang ibadah, melainkan menjadi sebuah ambisi tanpa akhir.

Ayat 9-10 menjabarkan efek domino saat hati kita dikuasai oleh keinginan untuk kaya.

Perhatikan kata kerja yang digunakan: terjatuh, terjerat, tenggelam, menyimpang, dan menyiksa diri.

Ini adalah gambaran seseorang yang perlahan-lahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa uang itu jahat. Uang bersifat netral. Yang menjadi akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.

Ketika uang mulai menempati takhta tertinggi di dalam hati kita, saat itulah uang berubah menjadi “tuan” yang kejam.

Demi mengejar angka di rekening atau status sosial, manusia bisa dengan mudah mengorbankan integritas, kejujuran, waktu bersama keluarga, bahkan waktu persekutuan dengan Tuhan.

Kita mengira kita sedang mengejar kebahagiaan, padahal kita sedang menyiksa diri kita sendiri dengan berbagai duka.

Lalu apa hubungan semua ini dengan tema “Bekerja untuk Tuhan”?

Bekerja untuk Tuhan berarti kita menyadari bahwa pekerjaan bukan pusat hidup kita,Tuhanlah pusat hidup kita.

Pekerjaan adalah bagian dari panggilan kita, Kita bekerja dengan sungguh-sungguh karena Tuhan memberikan kemampuan, kita bekerja dengan jujur karena kita membawa nama Tuhan, kita bekerja dengan disiplin karena kita menghormati tanggung jawab yang Tuhan percayakan, kita bekerja bukan hanya untuk menerima gaji, tetapi untuk menjadi berkat.

Seorang pedagang dapat bekerja untuk Tuhan, seorang petani dapat bekerja untuk Tuhan, seorang pegawai dapat bekerja untuk Tuhan, seorang guru dapat bekerja untuk Tuhan, seorang pengusaha dapat bekerja untuk Tuhan, seorang ibu yang mengurus rumah dan keluarganya juga dapat bekerja untuk Tuhan, Sebab yang membuat pekerjaan kita menjadi pelayanan bukan terutama jenis pekerjaannya, tetapi untuk siapa kita melakukannya dan bagaimana kita melakukannya.

Ketika kita bekerja dengan disiplin, integritas dan jujur, kita sedang menyatakan karakter Tuhan, ketika kita menolak korupsi meskipun ada kesempatan, kita sedang menyatakan bahwa Tuhan lebih berharga daripada keuntungan.

Ketika kita tidak mengambil hak orang lain, kita sedang menunjukkan bahwa hati kita tidak dikuasai uang.

Ketika kita menggunakan penghasilan untuk menolong orang yang membutuhkan, kita sedang menunjukkan bahwa berkat Tuhan tidak berhenti pada diri kita.

Jangan biarkan hasil dari pekerjaanmu menjauhkanmu dari Tuhan.

Bekerjalah dengan giat, tetapi jagalah hatimu agar tetap tertuju hanya kepada Tuhan.

Apakah bekerja dan memiliki kekayaan merupakan sesuatu yang salah? Jelaskan. Apa arti “bekerja untuk Tuhan” dalam kehidupan sehari-hari? Setelah mendengar renungan ini, apa yang perlu Anda ubah dalam cara memandang pekerjaan, uang, dan kekayaan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Nahum 1-3