KEMULIAAN TUHAN MEMENUHI RUMAH-NYA

Penulis : Budhi Setiawan

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

2 TAWARIKH 5:11-14

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya!

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Mengapa menurut Anda umat Israel mengucapkan, “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” pada saat itu?
  2. Apa makna awan yang memenuhi Bait Allah dalam peristiwa ini?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Sering kali manusia begitu mudah mengagumi apa yang dapat dilihat: bangunan yang indah, musik yang menyentuh, khotbah yang kuat, atau pelayanan yang terorganisir.

Namun dalam II Tawarikh 5, semua hal itu menjadi tidak begitu penting ketika kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah.

Bahkan para imam yang selama ini melayani di hadapan Tuhan tidak dapat berdiri untuk menjalankan tugas mereka.

Mengapa? Karena ketika kemuliaan Tuhan dinyatakan, manusia menyadari bahwa dirinya tidak sebesar yang selama ini ia pikirkan.

Bangsa Israel menyatakan satu kalimat yang sangat sederhana: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Mereka tidak berbicara tentang diri mereka.

Mereka tidak berbicara tentang keberhasilan pembangunan Bait Allah.

Mereka tidak berbicara tentang pencapaian bangsa mereka.

Mereka hanya berbicara tentang Tuhan.

Di sinilah esensi penyembahan sejati.

Penyembahan bukan pertama-tama tentang apa yang kita rasakan terhadap Tuhan, tetapi tentang pengakuan akan siapa Tuhan sebenarnya.

Penyembahan adalah saat jiwa berhenti terobsesi dengan dirinya sendiri dan mulai terpesona oleh kemuliaan Allah.

Semakin seseorang mengenal Tuhan, semakin ia menyadari bahwa Tuhan bukan sekadar jawaban atas kebutuhan hidupnya.

Tuhan adalah harta terbesar itu sendiri.

Banyak orang mencari tangan Tuhan—apa yang dapat Dia berikan.

Namun sedikit orang mencari wajah Tuhan—siapa Dia sebenarnya.

Kemuliaan Tuhan yang memenuhi Bait Allah juga mengingatkan bahwa hadirat-Nya bukan sesuatu yang dapat dikendalikan manusia.

Kita dapat mengatur jadwal ibadah, menyusun liturgi, memilih lagu, dan mempersiapkan pelayanan dengan baik.

Semua itu penting.

Tetapi pada akhirnya, hadirat Tuhan adalah anugerah, bukan hasil manipulasi manusia.

Kasih setia Tuhan yang dinyatakan dalam ayat ini bersifat kekal.

Artinya, kebaikan Tuhan tidak berubah mengikuti keadaan hidup kita.

Ketika hidup sedang berhasil, Dia tetap baik.

Ketika hidup sedang penuh air mata, Dia tetap baik.

Ketika kita mengerti jalan-Nya, Dia tetap baik.

Ketika kita tidak memahami apa yang sedang Dia kerjakan, Dia tetap baik.

Ayat ini menunjukkan adanya kesatuan para penyanyi dan peniup nafiri. Mengapa kesatuan penting dalam penyembahan bersama? Bagaimana gereja atau kelompok kecil dapat menciptakan suasana yang lebih berfokus pada Tuhan daripada pada penampilan atau program?

Pembacaan Alkitab Setahun

Yesaya 9-12