MEMULIHKAN HUBUNGAN YANG RUSAK

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MATIUS 5:25-26

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Yesus perintahkan agar kita lakukan dengan “lawan” kita, dan mengapa harus segera dilakukan?
  2. Apa konsekuensi dari tidak mau berdamai menurut perumpamaan ini, dan bagaimana hal itu berlaku dalam kehidupan rohani kita?
  3. Langkah praktis apa yang dapat kamu lakukan minggu ini untuk memulihkan satu hubungan yang sedang renggang?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Yesus mengajarkan sebuah prinsip yang sangat praktis: jangan menunda berdamai.

Di zaman-Nya, jika seseorang berutang atau berselisih dan dibawa ke pengadilan, ia bisa dijebloskan ke penjara sampai utangnya lunas.

Ini adalah gambaran nyata tentang betapa beratnya konsekuensi jika kita membiarkan konflik berlarut-larut.

Ketika kita membiarkan kemarahan, sakit hati, atau perselisihan tidak terselesaikan, itu seperti kita sedang membawa “utang” rohani yang semakin besar.

Yesus tidak berkata, “Cobalah berdamai kalau ada waktu.”

Ia berkata, “Cepatlah!” Ini menunjukkan bahwa memulihkan hubungan yang rusak adalah hal yang sangat mendesak, bukan sesuatu yang bisa ditunda-tunda.

Konflik yang tidak diselesaikan akan semakin memberatkan hidup kita.

Yesus menggambarkan proses hukum: dari lawan, ke hakim, ke penjara.

Ini adalah analogi yang kuat tentang bagaimana perselisihan yang tidak dibereskan akan semakin rumit dan menyakitkan.

Beban itu bukan hanya dirasakan oleh orang yang kita sakiti, tetapi juga oleh kita sendiri.

Sakit hati yang tidak diampuni bisa menjadi akar kepahitan yang meracuni hati, merusak kedamaian, dan bahkan mengganggu kesehatan.

Semakin lama kita menunda, semakin besar pula “bunga” dari beban itu.

Karena itu, Yesus mendesak kita untuk segera mengambil langkah menyelesaikan masalah, sebelum semuanya menjadi semakin berat.

Berdamai adalah tindakan kasih yang memuliakan Tuhan.

Ini bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuatan rohani.

Ketika kita mengambil inisiatif untuk berdamai, kita sedang mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Kita juga sedang meneladani Kristus yang lebih dulu mencari dan mendamaikan kita dengan Allah.

Dalam Roma 12:18, Paulus menulis: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang.”

Ada kata “sedapat-dapatnya” – artinya, tidak semua orang mau berdamai, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin.

Yesus mengajarkan bahwa tanggung jawab untuk memulihkan hubungan ada pada kita yang mengaku percaya kepada-Nya.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Segera Ambil Inisiatif untuk Berdamai.

Jika ada seseorang yang kamu sadari sedang sakit hati kepadamu, jangan menunggu.

Hubungi, temui, atau kirim pesan dengan rendah hati.

Kamu tidak perlu menunggu sampai perasaanmu nyaman.

Lakukan sekarang, karena Yesus berkata “cepatlah berdamai.”

Bahkan jika orang itu tidak menerima permintaan maafmu, setidaknya kamu sudah melakukan bagianmu dan hatimu menjadi lega.

Kedua, Jangan Membawa Masalah Lama ke Hari Berikutnya.

Prinsip “jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu” (Efesus 4:26) sangat relevan di sini.

Sebelum tidur, periksalah hatimu: apakah ada orang yang masih membuatmu marah?

Apakah ada konflik yang belum terselesaikan?

Jika ya, ambil langkah sederhana untuk mulai memulihkannya, entah dengan berdoa untuk orang itu atau mengirim pesan untuk menjadwalkan pertemuan.

Damai dengan sesama adalah jalan menuju damai dengan Tuhan.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya supaya cepat memulihkan hubungan yang retak.

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 16-18