HATI YANG JAUH DARI TUHAN

Penulis : Pdt. Robinson Saragih

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

MARKUS 7:5-8

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dipertanyakan oleh para pemimpin agama Yahudi kepada Yesus?
  2. Mengapa Yesus menyatakan bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang munafik?
  3. Apa sebenarnya inti ajaran orang-orang Farisi?
  4. Apa yang diabaikan oleh orang-orang Farisi, dan apa yang mereka ajarkan?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Saudara, melalui percakapan antara orang-orang Farisi dengan Yesus Kristus, kita dapat memahami inti pembicaraan mereka.

Orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa murid-murid-Yesus makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu?”

Hal itu mereka lakukan karena mencuci tangan sebelum makan merupakan adat kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.

Yesus menjawab bahwa nabi Yesaya telah menubuatkan hal itu dengan berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan hanyalah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan demi berpegang pada adat istiadat manusia.”

Saudara, bagi orang-orang Yahudi hal ini sangat jelas, karena ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertugas menjaga serta mengajarkan tradisi-tradisi tersebut di tengah masyarakat.

Apakah keadaan seperti ini juga dapat terjadi di tengah kehidupan kekristenan pada masa sekarang?

Secara tertulis sebenarnya tidak ada, tetapi dalam praktiknya keadaan seperti ini sering kita alami.

Misalnya, ketika kita menyanyikan pujian dan penyembahan dalam ibadah.

Sering kali kita memang bernyanyi dan memuji Tuhan, tetapi kita melakukannya hanya sebagai kebiasaan.

Karena itu, diperlukan seorang worship leader (WL) yang memimpin jalannya pujian agar seluruh jemaat dapat beribadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.

Namun, tidak jarang instruksi yang diberikan oleh WL tidak diikuti oleh jemaat.

Misalnya, ketika WL berkata, “Mari kita bersorak!” sering kali tidak ada yang benar-benar bersorak.

Jemaat justru hanya bertepuk tangan dengan lebih keras dan lebih cepat.

Ketika WL berkata, “Mari kita menari!” sering kali tidak ada seorang pun yang menari, bahkan terkadang WL sendiri tidak melakukannya.

Hal-hal seperti inilah yang sering saya amati dalam berbagai gereja.

Memang tidak selalu demikian, tetapi keadaan seperti ini cukup sering terjadi.

Instruksi WL tidak dilakukan sebagaimana mestinya.

Ketika diajak bersorak, hanya satu atau dua orang yang melakukannya, sedangkan yang lainnya tetap hanya bertepuk tangan.

Apakah keadaan seperti ini dapat disamakan dengan memuliakan Tuhan hanya dengan bibir, tetapi tidak dilakukan dengan sepenuh hati?

Seharusnya kita memuji dan menyembah Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita.

Ketika WL mengajak, “Mari kita angkat tangan kita,” sering kali masih terdengar suara tepuk tangan.

Hal itu menunjukkan bahwa masih ada jemaat yang tidak mengangkat tangan.

Bukankah keadaan seperti inilah yang sering kita jumpai dalam ibadah di gereja? Marilah kita mengamati dan merenungkannya.

Allah menginginkan agar ibadah kita benar-benar lahir dari jiwa dan roh, sehingga tubuh kita dapat mengikutinya dengan baik.

Dengan demikian, ketika firman Tuhan disampaikan, roh kita sudah siap dan terbuka untuk menerima benih firman.

Marilah kita beribadah bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan seluruh keberadaan kita.

Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa yang menyebabkan kita sering mengabaikan instruksi dari WL ketika memuji dan menyembah Tuhan?

Pembacaan Alkitab Setahun

Amsal 10-12