KASIH SEBAGAI PENGIKAT YANG MENYATUKAN
Penulis : Pramadya Wisnu

Pembacaan Alkitab Hari ini :
KOLOSE 3:12-14
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Mengapa orang percaya disebut orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya?
- Mengapa kasih disebut sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?

Dalam kehidupan bersama baik dalam keluarga, komunitas, maupun gereja, perbedaan adalah yang pasti akan terjadi.
Karakter yang unik, latar belakang yang berbeda, hingga ego masing-masing sering kali menjadi kerikil yang memicu gesekan.
Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tetap utuh di tengah keberagaman dan potensi konflik tersebut?
Firman Tuhan memberikan jawabannya: Kasih.
Teori tentang karakter umat Allah yang adalah turunan dari karakter Kristus sangat mudah diucapkan, namun ujian aslinya ada pada hubungan interpersonal.
Rasul Paulus menyatakan “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain”.
Paulus bersikap realistis; ia tahu bahwa dalam komunitas, gesekan dan kekecewaan pasti akan terjadi.
Kuncinya adalah saling menopang dan mengampuni.
Kata “saling” menunjukkan bahwa ini adalah jalan dua arah.
Tidak ada yang sempurna, maka semua orang perlu bersabar dan itu dimulai dengan kesediaan untuk mendengar dan merenungkan.
Apa standar pengampunannya? “Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Pengampunan kita kepada sesama bukanlah karena orang tersebut layak mendapatkannya, melainkan karena kita telah terlebih dahulu menerima pengampunan yang sangat besar dari Kristus di atas kayu salib.
Dan dasar dari kesediaan kita untuk memberikan pengampunan adalah: Kasih.
Kita bersedia mengampuni, bertindak sabar, bersedia untuk tidak membalas meskipun sudah di salah mengerti.
Mengenakan kasih dan karakter Kristus adalah pilihan yang harus diambil setiap hari. Itu tidak terjadi secara otomatis.
Saat kita bangun di pagi hari, kita harus sengaja memilih untuk mengenakan belas kasihan, kesabaran, dan kasih, terutama saat menghadapi orang-orang yang menguji batas kesabaran kita.
Ketika kita hidup dalam lingkaran kasih yang mempersatukan ini, kita sedang memperlihatkan sekilas gambaran kasih Kristus kepada dunia ini.
Kita menjadi saksi bahwa di dalam Kristus, pemulihan hubungan dan kesatuan yang sejati itu adalah hal yang nyata dan sangat mungkin untuk dilakukan.

Saudara, dalam kelompok pemuridan, ceritakan tentang apakah ada orang yang paling sulit untuk dikasihi.
Pembacaan Alkitab Setahun
Mazmur 90-95