MENANGGALKAN PERKATAAN YANG MELUKAI

Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

EFESUS 4:23-27

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang dimaksud dengan “perkataan busuk” dalam ayat 29, dan mengapa gambaran “busuk” dipakai?
  2. Mengapa perkataan yang melukai dapat mendukakan Roh Kudus (ayat 30)?
  3. Menurut ayat 31-32, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dikenakan sebagai gantinya?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” (Efesus 4:25).

Kita semua pernah mengalami luka karena perkataan.

Mungkin ada kata-kata dari orang tua, teman, atau pasangan yang masih terngiang sampai bertahun-tahun kemudian.

Sebaliknya, kita juga pernah melukai orang lain dengan perkataan kita sendiri.

Paulus tahu betapa dahsyatnya kuasa lidah.

Dalam jemaat Efesus, ada orang-orang yang mungkin masih terbiasa dengan gaya bicara lama mereka: kasar, sarkastis, suka menggosip, atau meledak-ledak dalam amarah.

Paulus dengan tegas berkata: “Janganlah ada perkataan kotor (busuk) keluar dari mulutmu.” Gambaran “busuk” ini menunjukkan bahwa perkataan yang melukai itu menjijikkan di mata Tuhan seperti buah yang sudah basi.

Orang percaya dipanggil untuk memiliki standar bicara yang baru, bukan sekadar “tidak kasar”, tetapi aktif membangun.

Setiap perkataan harus bertujuan membangun sesama.

Paulus berkata: “…tetapi hanya yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”

Artinya, sebelum bicara, kita perlu bertanya: “Apakah kata-kataku ini akan membantu orang lain menjadi lebih baik? Apakah ini memberi kekuatan, pengharapan, atau penghiburan?” Perkataan yang membangun bisa berupa pujian tulus, nasihat yang lembut, atau sekadar kata-kata penyemangat di saat susah.

Sebaliknya, perkataan yang merusak bisa berupa ejekan, sindiran, bentakan, gosip, atau bahkan “kebenaran” yang disampaikan dengan kasar tanpa kasih.

Paulus tidak melarang menegur, tetapi teguran harus dilakukan dengan cara yang membangun, bukan menghancurkan.

 “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu.”

Ini peringatan yang sangat serius. Roh Kudus tinggal di dalam setiap orang percaya sebagai meterai kepemilikan Allah.

Namun, Dia bisa bersedih karena perkataan kita.

Bayangkan Roh Kudus adalah Pribadi yang sangat lembut dan kudus.

Ketika kita mengeluarkan kata-kata kasar, fitnah, atau amarah yang meledak-ledak, itu seperti tamparan di wajah-Nya.

Dia hadir mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kita.

Karena itu, menjaga perkataan adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan Roh Kudus.

Ayat 31-32 kemudian memberi jalan keluar: buanglah segala kepahitan, kemarahan, pertengkaran, fitnah, dan segala kejahatan.

Sebaliknya, hendaklah kita ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni seperti Allah mengampuni kita di dalam Kristus.

Dua Hal Praktis untuk Melakukan Firman.

Pertama, Pasang “Filter” Sebelum Berkata.

Biasakan untuk berhenti sejenak sebelum berbicara, terutama saat emosi sedang memuncak.

Tanyakan tiga hal: (1) Apakah perkataanku ini benar? (2) Apakah ini perlu diucapkan? (3) Apakah ini akan membangun atau menghancurkan? Jika tidak memenuhi kriteria itu, lebih baik diam.

Latihan ini akan menyelamatkanmu dari banyak penyesalan.

Kedua, Latih Lidah untuk Mengucapkan Berkat.

Mulailah hari dengan mengucapkan kata-kata positif kepada keluarga, teman, atau rekan kerja.

Ucapkan terima kasih, beri pujian tulus, atau kirim pesan penyemangat.

Jika kamu pernah melukai seseorang dengan perkataan, segera minta maaf.

Diskusikan dengan pembimbingmu, bagaimana caranya menggunakan filter yang efektif sebelum berbicara.

Pembacaan Alkitab Setahun

Mazmur 21-25