KASIH YANG DEWASA DAN SEMPURNA
Penulis : Pdt. Robinson Saragih

Pembacaan Alkitab Hari ini :
MATIUS 5:43-48
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Musa menuliskan dalam hukum Taurat: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Namun, apakah yang diajarkan Yesus Kristus sebagai pengganti hukum Taurat itu?
- Apa yang menjadikan kita anak-anak Bapa di sorga?
- Siapakah yang sepatutnya menerima salam kita?
- Kasih siapakah yang harus kita teladani dan lakukan?

Saudara, Yesus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya sebagai tanda bahwa mereka adalah murid Kristus:
Yohanes 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Yesus juga pernah mengatakan bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah:
Matius 22:36-42 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.”
Dari apa yang dikatakan Yesus, jelas bahwa hukum kasih merupakan dasar hidup orang percaya.
Orang Kristen dikenal melalui kasihnya kepada siapa saja.
Orang lain seharusnya dapat merasakan kasih itu melalui senyum, sapaan, dan sikap kita yang ramah.
Saudara, setiap hari kita hidup di tengah masyarakat.
Menurut saudara, apa yang dipikirkan orang-orang di sekitar tentang dirimu dan keluargamu, khususnya para tetanggamu?
Bagaimana dengan teman sekantor, teman sekelas, teman sepermainan dan orang-orang lain di sekitarmu?
Kesan seperti apa yang ingin saudara tanamkan dalam pikiran mereka tentang dirimu?
Namun, semua itu bukan untuk menyombongkan diri.
Apa yang saudara lakukan agar mereka mengenalmu dengan baik, sehingga memudahkanmu untuk berbicara dan bergaul dengan mereka?
Dari hubungan itulah, suatu saat engkau dapat bersaksi dan memberitakan kabar baik kepada mereka.
Saudara, sudahkah kita berusaha supaya mereka mengenal kita dengan baik, sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk bersaksi kepada mereka?
Saudara, cobalah menjawab pertanyaan ini dengan jujur.
Apakah tetanggamu mengenalmu sebagai orang yang baik, ramah, murah hati, dan suka bergotong royong?
Ataukah mereka mengenalmu sebagai orang yang sombong dan tidak mau bergaul?
Seperti apakah penilaian mereka terhadap dirimu?
Orang lain menilai kita berdasarkan kesan yang kita tanamkan melalui sikap dan cara kita bergaul dengan mereka.
Saudara, berdoalah bagi para tetanggamu, teman sekantormu, pemilik warung tempat engkau berbelanja, dan orang-orang yang setiap hari engkau temui.
Mintalah supaya Tuhan Yesus menganugerahkan belas kasihan di dalam hatimu bagi mereka semua.
Mari kita melaksanakan perintah Yesus yang terutama, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Mari kita mengasihi tetangga, teman sekantor, teman sepergaulan, penjual dan pembeli di pasar, serta siapa saja yang sering kita temui.
Berdoalah bagi mereka dan mulailah membangun hubungan yang baik dengan mereka.
Tanamkan kasih dan kebaikan supaya mereka mengenalmu sebagai pribadi yang ramah, baik, dan suka menolong.
Berikan kesan bahwa dirimu adalah seorang Kristen, pengikut Kristus yang mengasihi siapa saja.
Dengan demikian, ketika ada kesempatan, engkau dapat bersaksi kepada mereka. Kasihilah mereka seperti Bapa mengasihi semua orang.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Apa sebabnya kita sulit mengasihi seseorang yang kita kenal, tetapi tidak seperti yang lain? Bagaimana cara mengatasinya?
Pembacaan Alkitab Setahun
Ayub 35-37