HIDUP SEPERTI KRISTUS HIDUP
Penulis : Bernard Tagor

Pembacaan Alkitab Hari ini :
1 YOHANES 2:3-6
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Apa tandanya bahwa kita sudah mengenal Allah?
- Jika kita mengaku mengenal Dia, namun kita tidak menuruti perintahNya, kita juluki apa? Dan kenapa?
- Bagaimana menunjukkan bahwa kita benar-benar mengenal Kristus dalam kehidupan sehari-hari?

Surat 1 Yohanes ditulis untuk meneguhkan iman orang percaya di tengah ajaran yang menyimpang dan kehidupan yang tidak konsisten dengan kebenaran.
Penulis ingin menunjukkan bahwa pengenalan akan Allah tidak cukup hanya diakui dengan kata-kata, tetapi harus nyata dalam kehidupan.
Dalam 1 Yohanes 2:3–6, tujuan penulis adalah memberi ukuran yang jelas: seseorang benar-benar mengenal Tuhan jika ia menuruti perintahNya.
Dengan demikian, bagian ini menegaskan bahwa iman yang sejati selalu terlihat melalui ketaatan, bukan sekadar pengakuan lisan.
Pengenalan yang benar akan Allah tidak pernah berhenti pada pengetahuan, tetapi pasti menghasilkan kehidupan yang berubah, karena iman yang sejati tidak mungkin terpisah dari ketaatan.
“Hidup seperti Kristus hidup” dalam konteks ini berarti hidup dalam ketaatan yang nyata kepada kehendak Allah.
Sering kali ada anggapan, “cukup percaya nama Yesus saja sudah diselamatkan,” tetapi pertanyaannya, bagaimana jika hidup dan karakter tidak berubah? Bagian ini menegaskan bahwa pengakuan tanpa ketaatan adalah kosong.
Memang benar bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1), tetapi itu bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan menunjuk pada status baru orang percaya yang telah dibebaskan dari hukuman dosa dan sekarang hidup dipimpin oleh Roh.
Karena itu, hidup dalam Kristus selalu menghasilkan perubahan.
Kasih kepada Allah tidak berhenti pada perasaan atau pengakuan saja, tetapi dinyatakan dalam ketaatan (1 Yohanes 2:5).
Hal ini sejalan dengan ajaran yang tercatat di kitab injil Matius 7:21 bahwa bukan setiap orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” yang masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.
Seperti pepatah, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” yang menunjukkan bahwa kehidupan seseorang akan mencerminkan sumbernya.
Jika kita benar adalah anak-anak Allah, maka seharusnya hidup kita mencerminkan Kristus, hidup seperti Dia hidup.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Tuhan setiap hari.
Ini terlihat dari kesediaan dan kerelaan kita untuk melakukan firman Tuhan, bukan hanya mendengarnya.
Hidup dalam kejujuran, kasih, dan kerendahan hati; serta terus berjuang meninggalkan dosa.
Jadi jika seseorang mengaku mengenal Tuhan tetapi tidak melakukan firmanNya, maka ia disebut “pendusta,” yaitu orang yang tidak hidup dalam kebenaran.
Dalam Alkitab, istilah ini sangat tegas; dalam bahasa Yunani digunakan kata pseustēs, yang berasal dari pseudomai, yang berarti berkata tidak benar atau menipu, yang menunjuk pada hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diakui.
Dunia saat ini, lebih membutuhkan teladan hidup yang nyata daripada sekadar kata-kata.
Bahkan dalam banyak kasus, orang tertarik datang kepada Kristus bukan karena banyaknya perkataan kita, melainkan karena melihat ketaatan dan kehidupan yang berubah dari orang percaya.
Dengan demikian, hidup dalam ketaatan sangatlah penting dan sekaligus menjadi bukti serta kesaksian yang nyata bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam diri kita, dan melalui hidup itulah orang lain dapat melihat dan mengenal Dia.

Diskusikan di dalam kelompok PA atau persekutuan kita, Apakah hidup kita saat ini benar-benar menunjukkan bahwa kita mengenal Kristus melalui ketaatan kepada firmanNya, ataukah hanya sebatas pengakuan iman tanpa bukti perubahan hidup yang nyata?
Pembacaan Alkitab Setahun
1 Tawarikh 22-24