KUASA ALLAH MENGALAHKAN KUASA GELAP
Penulis : Pdt. Saul Rudy Nikson

Pembacaan Alkitab Hari ini :
KISAH PARA RASUL 4:9-13
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Apa perbedaan antara cara Simon menggunakan “kuasa”-nya (ayat 9-11) dengan cara Filipus menggunakan kuasa Allah (ayat 12-13)?
- Mengapa orang Samaria yang sebelumnya mengagungkan Simon (ayat 10) dapat beralih percaya kepada pemberitaan Filipus?
- Menurut pengamatanmu, “kuasa palsu” seperti apa yang masih “memesona” orang-orang di sekitarmu saat ini, dan bagaimana Injil dapat menjawabnya?

“Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah Para Rasul 8:12).
Sebelum Injil datang, kota Samaria telah lama hidup dalam pesona.
Simon, dengan sihirnya, telah menciptakan ilusi kuasa yang membuat orang takjub dan menyembahnya.
Ini adalah gambaran sempurna tentang dunia kita—banyak hal dan orang mengklaim memiliki “kuasa besar” untuk memberikan kepuasan, kesuksesan, atau pengalaman spiritual (kuasa uang, okultisme, ilmu gaib, kultus individu).
Kuasa-kuasa ini memesona tetapi pada akhirnya membelenggu.
Latar belakang ini mengingatkan kita bahwa pertempuran rohani bukanlah dongeng. Ia nyata dan hadir di tengah masyarakat.
Namun, kisah ini juga memberi kita pengharapan: di mana kuasa kegelapan berkuasa, di situlah Injil Kerajaan Allah paling dibutuhkan dan paling berkuasa untuk menerobos.
Perbedaan mendasar antara kuasa kegelapan dan Kuasa Allah.
Kuasa Simon (sihir) bertujuan untuk “memesona” (ayat 9, 11)—membuat orang terpukau, terhipnotis, tetapi tetap dalam kendalinya.
Hasilnya adalah kultus kepribadian (ayat 10).
Sebaliknya, Kuasa yang dibawa Filipus melalui pemberitaan Injil bertujuan untuk “membebaskan dan mengubah”.
Ia menyembuhkan yang sakit, mengusir roh jahat, dan membawa orang kepada iman dan baptisan—sebuah tindakan publik untuk memutuskan ikatan dengan masa lalu.
Kuasa Injil tidak membuat orang terkagum-kagum pada sang pemberita, tetapi membawa mereka kepada “nama Yesus Kristus” (ayat 12).
Kuasa Allah memerdekakan dan memusatkan penyembahan kepada Kristus, bukan kepada manusia.
Kuasa Allah tidak menghindari konfrontasi.
Filipus tidak berkhotbah di pinggiran kota; ia langsung masuk ke pusat pengaruh Simon.
Ketika Kuasa Kerajaan Allah yang sejati hadir dengan tanda-tanda otentik, kuasa palsu itu terbongkar dengan sendirinya.
Orang-orang yang tadinya terpesona oleh Simon, kini melihat sesuatu yang lebih besar: kuasa yang tidak hanya memukau, tetapi menyembuhkan dan menyelamatkan.
Hasilnya adalah pertobatan massal, termasuk Simon sendiri (meski nanti terungkap motivasinya belum tulus).
Terang tidak perlu berdebat dengan kegelapan; ia hanya perlu menyinari.
Kehadiran hidup yang dipenuhi Kuasa Allah dan pemberitaan Injil yang jelas akan secara alami mengungkapkan kesia-siaan kuasa palsu dan menarik orang kepada kebenaran.
Hal-hal Praktis untuk Melakukan Firman. Pertama, Kenali dan Tolak Segala “Pesona” Kuasa Palsu di Sekitarmu.
Evaluasi hidupmu: adakah hal-hal yang “memesona” dan mengklaim kuasa atas hidupmu selain Kristus?
Itu bisa berupa praktik spiritual yang tidak alkitabiah, ketergantungan pada ramalan, atau kultus terhadap pemimpin tertentu.
Ambil keputusan untuk menolaknya dan berpegang hanya pada Kristus.
Kedua, Beritakan Injil dengan Keyakinan akan Kuasa yang Menyertainya.
Saat membagikan iman, jangan takut atau merasa inferior.
Percayalah bahwa “Injil adalah kekuatan Allah” (Roma 1:16).
Berdoalah agar Tuhan menyertai pemberitaanmu dengan konfirmasi kuasa-Nya, baik melalui kata-kata hikmat, doa kesembuhan, atau perubahan hidup yang nyata.

Diskusikan dalam kelompok PA, bagaimana supaya dapat menyatakan kuasa Allah dalam penginjilan.
Pembacaan Alkitab Setahun
Bilangan 18-20