KETAATAN MENDATANGKAN KEAJAIBAN

Penulis : Anang Kristianto

This image has an empty alt attribute; its file name is D1.png

Pembacaan Alkitab Hari ini : 

LUKAS 5:1-6

Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

This image has an empty alt attribute; its file name is D2.png
  1. Apa yang Yesus lakukan di atas perahu Simon?
  2. Apa yang Yesus katakan kepada Simon setelah selesai mengajar banyak orang?
  3. Apa yang terjadi dengan Simon sepanjang malam bekerja?
  4. Apa yang terjadi ketika Simon taat kepada perintah Yesus?
This image has an empty alt attribute; its file name is D3.png

Ayat yang kita baca hari ini mengisahkan peristiwa ketika Yesus mengajar orang banyak di tepi Danau Genesaret dan kemudian memerintahkan Simon Petrus untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam.

Perintah tersebut disampaikan setelah Petrus dan rekan-rekannya bekerja semalaman tanpa memperoleh hasil apa pun.

Nelayan seperti Simon Petrus bukanlah pekerja amatir, melainkan pelaku usaha yang memahami musim, waktu, dan teknik penangkapan ikan.

Penangkapan ikan umumnya dilakukan pada malam hari, ketika ikan bergerak ke permukaan dan jala lebih efektif.

Dengan demikian, perintah Yesus untuk menebarkan jala pada siang hari bertentangan langsung dengan praktik profesional yang mapan.

Namun, Petrus memilih untuk menaati perkataan Yesus, bukan karena ia memahami hasilnya, melainkan karena ia menaruh kepercayaan kepada Pribadi yang memerintahkannya.

Ungkapan Petrus, “tetapi karena firman-Mu (Engkau menyuruhnya)”, sangat penting secara teologis.

Kata rhēma menunjuk pada firman yang diucapkan secara langsung dan kontekstual, bukan sekadar ajaran umum (logos).

Artinya, dasar ketaatan Petrus bukan pengalaman, tradisi, atau perhitungan rasional, melainkan kepercayaan pada firman Yesus (rhema) yang personal dan penuh otoritas.

Ketaatan tersebut berbuah pada peristiwa yang luar biasa, yakni tangkapan ikan yang sangat banyak hingga jala mereka hampir koyak.

Dalam dunia modern, banyak orang mengandalkan kompetensi, perencanaan, dan kerja keras, namun tetap menghadapi kegagalan, kekecewaan, atau kelelahan batin.

Budaya rasionalitas sering menempatkan ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai sesuatu yang tidak praktis atau kurang masuk akal.

Akan tetapi, kisah ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak selalu selaras dengan logika manusia.

Justru pada titik inilah iman diuji, yaitu ketika seseorang mendapatkan rhema Firman Tuhan dan diminta untuk taat meskipun pengalaman dan perhitungan rasional tidak menjanjikan hasil yang pasti.

Melalui firman ini, mari bersama kita merespons panggilan Tuhan dengan ketaatan yang nyata dalam kehidupan praktis sehari-hari.

Ketaatan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan konkret, seperti berani melangkah kembali setelah kegagalan, bersikap jujur meskipun berisiko, atau melakukan kebaikan yang Tuhan taruh di dalam hati.

Ketaatan yang dilakukan dengan iman bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga membuka ruang bagi karya Tuhan yang membawa keajaiban.

Dalam pembacaan renungan kita diatas, makna apa yang kita dapat ambil dan pelajari? Diskusikan bersama kelompok PA dan dalam kelompok anggota persekutuan kita.

Pembacaan Alkitab Setahun

Imamat 24-25