MENERIMA JANJI ALLAH BERSAMA KRISTUS
Penulis : Bernard Tagor

Pembacaan Alkitab Hari ini :
ROMA 8:15-17
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Apa saja janji-janji Allah yg di maksud dari Roma 8:15-17?
- Siapa yang bersaksi dengan roh kita, bahwa kita adalah anak Allah?
- Siapa yang berhak menerima janji Allah? (Ayat 17)

Jika ada yang bertanya, siapa yang senang jika janjinya ditepati oleh orang yg membuat janji?
Pasti kita yang menerima janji tersebut sangat senang, apabila janji itu ditepati.
Terlebih lagi apabila Tuhan sendiri menepati janji kepada kita anak-anak-Nya.
Surat Roma 8:15-17 menyatakan, janji Allah itu adalah “Warisan Rohani” bagi orang yg sudah percaya kepada Kristus.
Jadi bukan karena kebaikan, pengalaman, harta atau usaha kita yang membuat kita selamat, tetapi semata-mata karena Kristuslah yang telah memberikan secara cuma-cuma.
Sehingga kita sebagai anak-anak Allah, kita berhak mewarisi segala sesuatu yang Kristus miliki.
Adapun janji yang dimaksud adalah; Keselamatan kekal, kehidupan bersama Allah, dan juga berkat-berkat surgawi yang sudah disediakan Kristus untuk kita.
Bahkan kita disebut “ahli waris Allah dan satu-satu ahli waris dengan Kristus”.
Hal Ini berarti kita tidak hanya mendapat janji tentang kemuliaan yang akan kita terima kelak, tetapi kita juga harus siap mengalami penderitaan dalam mengiring Dia setiap hari!
Dalam Roma 8:15 Rasul Paulus juga menekankan tentang Identitas orang percaya sebagai anak dan ahli waris Allah.
Jadi kita tidak lagi hidup sebagai budak/hamba dosa yang hidup dalam ketakutan, tetapi kini status kita adalah anak (bukan status fisik atau dilahirkan secara biologis), namun identitas kita adalah anak yang di angkat “adopsi” (bahasa Yunani: huiothesia) yang berarti pengangkatan sebagai anak sah secara legal dan memiliki hak penuh sebagai anggota keluarga baru.
Dalam budaya Romawi masa itu, anak yang diadopsi, jika bukan dari darah keluarga, tetap bisa mendapat semua hak dan warisan seperti anak biologis.
Dan hukum itu berlaku juga sampai dengan sekarang.
Status ini adalah suatu hal yang penting, sekaligus hal yang istimewa untuk kita.
Kita memiliki hubungan atau relasi yang intim dengan Allah sang pencipta melalui Yesus dan roh kudus, sehingga kita dapat dengan berani berseru “ya Abba ya Bapa”.
Dengan status yang kita miliki saat ini, apakah kita sadar bahwa kita adalah anak Allah yang betul-betul merdeka dari dosa dan mewarisi segala janji Allah tentang hidup yang kekal dan hidup yang diberkati?
Jika kita sadar, mengapa kita masih takut, kuatir, cemas berlebihan tentang hidup kita; tentang apa yang kita makan-minum, tentang apa yang kita akan pakai dan takut menghadapi masa depan kita?
seolah-olah kita kurang percaya atau ragu akan status kita, bahwa kita sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah yang juga ahli waris yang berhak menerima segala janji Allah!
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing, dan coba kita renungkan kembali, betulkah kita percaya kepada Dia dengan sepenuh hati dan betulkah status kita saat ini sudah menjadi anak Allah yang sejati?

Apa alasan, yang mana status kita saat ini adalah anak Allah, tetapi dalam prakteknya kita kurang percaya atau ragu-ragu bahwa kita adalah anak yang berhak menerima segala janji-janji Allah? Diskusikanlah dengan kelompok PA dan juga di dalam kelompok persekutuan kita.
Pembacaan Alkitab Setahun
Imamat 16-18