YESUS BERDOA DALAM PERSEKUTUAN DENGAN BAPA
Penulis : Pdt. Robinson Saragih

Pembacaan Alkitab Hari ini :
YOHANES 17:20-24
Bacalah bagian Firman ini utuh dalam perikopnya, berulang-ulang, supaya Anda dapat mengikuti jalan ceritanya, dapat menangkap arti yang dikandungnya memahaminya.

- Yesus berdoa untuk siapa saja?
- Hal apa yang menyebabkan dunia mengetahui bahwa Yesus diutus oleh Bapa?
- Oleh iman, apakah yang ada di dalam tubuh seorang beriman itu?
- Apa bukti bahwa Allah mengasihi seseorang?

Saudara, menjelang hari penyaliban, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Ia mendoakan murid-murid-Nya, dan juga berdoa bagi semua orang yang akan mendengarkan pemberitaan Injil kebenaran.
Yesus berdoa agar para murid hidup dalam kesatuan, sehingga kesatuan antara Bapa, Yesus, dan para murid nyata sebagai satu kesatuan.
Dengan demikian, dunia akan mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus bagi dunia ini.
Yesus berdoa agar para murid, di mana pun mereka berada, hidup dalam persekutuan dengan Yesus dan Bapa.
Melalui persekutuan itu, mereka dapat menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus oleh Bapa, yang telah dijanjikan sejak zaman Adam masih berada di Taman Eden, sebelum manusia diusir oleh Tuhan Allah dari taman itu.
Kejadian 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Telah dinubuatkan bahwa akan terjadi peperangan antara keturunan iblis dan keturunan perempuan, yaitu Yesus Kristus.
Oleh karena itu, Yesus datang untuk menyatakan firman Tuhan Allah, bahwa akan datang seorang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular tua. Inilah misi Yesus datang ke dunia ini.
Yesus datang untuk menggenapi janji Bapa-Nya dan menyatakan kasih Bapa kepada dunia.
Tuhan Allah rela mengorbankan Putra Tunggal-Nya sebagai korban penghapus dosa dunia.
Agar seluruh rencana ini digenapi, Yesus berdoa sebelum melaksanakan tugas yang Bapa kehendaki Ia selesaikan, sebagai Anak Domba Allah yang akan disembelih sebagai korban penghapus dosa dunia.
Yesus mendoakan murid-murid-Nya, mendoakan orang-orang yang akan memberitakan Kabar Baik, yaitu Injil keselamatan dan anugerah Bapa.
Ia juga berdoa bagi semua orang yang percaya kepada Injil Kerajaan, agar di mana pun mereka berada, mereka bersatu menjadi satu tubuh Kristus, sebuah komunitas Kristen yang saling mengasihi.
Dengan demikian, dunia mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Bapa dan bahwa Yesus adalah Utusan Allah Bapa.
Melalui doa-doa-Nya, Yesus ingin menyatakan bahwa Ia bersatu dengan Bapa dalam seluruh karya dan pelayanan-Nya.
Yesus menunjukkan bahwa Ia dan Bapa berada dalam persekutuan yang kekal, sebagaimana sejak awal telah dituliskan oleh Yohanes:
Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”
Tuhan, Firman dan Roh Kudus, bersama-sama dalam menciptakan semesta ini.
Yohanes 1:3 “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Yohanes 5:19 “Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”
Dan Anak, yaitu Yesus Kristus, adalah utusan Bapa untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia ini.
Yohanes 3:16–17 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
Dalam rangka penyelamatan dunia ini, terjadilah sebuah tragedi yang luar biasa, yaitu saat Yesus dan Bapa mengalami keterpisahan.
Dari kekekalan sampai kekekalan mereka senantiasa bersatu, namun peristiwa itu terjadi ketika Yesus menaati kehendak Bapa dan menggenapi rencana Bapa.
Di atas kayu salib, Yesus ditinggalkan oleh Bapa-Nya.
Markus 15:34 “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Saudara, dapatkah engkau menyadari betapa besar kasih Bapa terhadap dirimu?
Betapa besar pula kasih Bapa terhadap orang-orang di sekitarmu?
Tuhan Allah, Bapa kita, rela meninggalkan Anak-Nya dalam keadaan sekarat di atas kayu salib demi menyelamatkan kita.
Yesus adalah 100% manusia dan 100% ilahi, Ia adalah Allah.
Namun, dalam ketaatan-Nya sebagai utusan, Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Rasul Paulus menuliskan kebenaran ini dalam:
Filipi 2:5-11 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
Dalam rangka melaksanakan tugas, inilah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Di dalam persekutuan tersebut, Yesus memperoleh kekuatan untuk menjalankan tugas-Nya. Penulis Alkitab menuliskan:
Markus 14:32-36 “Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Kita dapat melihat bahwa terdapat perbedaan kehendak antara Yesus Kristus dan Bapa-Nya.
Namun, kita juga melihat bagaimana Yesus sebagai Hamba Allah taat untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya.
Haleluya, Puji Tuhan, Amin.

Berapa kali kita tidak menaati perintah Yesus, dan apa yang saudara alami ketika tidak taat itu?
Pembacaan Alkitab Setahun
Kejadian 43-45