• <font face=Thema: Arise and Shine to be a Witness" />
  • Visi
  • MISI
  • NILAI-NILAI

GAYA HIDUP KERAJAAN ALLAH DALAM KELUARGA

Pnt. Robinson Saragih

Pnt. Robinson Saragih

EFESUS 5:25: Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

Saudara yang kekasih, kalau kita membicarakan mengenai kerajaan Allah, maka tidak mungkin kita tidak membicarakan mengenai kekuasaan. Dalam kerajaan Allah maka kita sudah mengerti bahwa ALLAH BAPA Penguasanya.

Jika pola kerajaan Allah ini diberlakukan dalam keluarga Kristen, maka Allah BAPA jugalah sebagai Penguasanya.

 I KORINTUS  11:3: Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Saudara, Rasul Paulus menginginkan supaya  jemaat mengetahui bahwa di dalam keluarga itu para bapaklah yang menjadi  kepala atau  pemimpin; mereka memimpin isteri mereka. Namun kepemimpinan mereka merupakan kelanjutan dari suatu kepemimpinan yang berada di surga; kepemimpinan yang diselenggarakan dengan mengutamakan KASIH, bukan kekuasaan. Seperti itulah yang harus terjadi di dalam keluarga, suami bukan menguasai isterinya, namun mengasihi isterinya, begitu juga terhadap anak-anak, mereka bukan menguasai anak-anak, namun mengasihi anak-anak.

EFESUS 5:25: Hai suami, KASIHILAH isterimu sebagaimana KRISTUS mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

EFESUS 6:4: Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Jadi sebagai pemimpin dalam keluarga, bapak menjadi kunci keberhasilan suatu keluarga. Jika mereka memimpin keluarga mereka seperti KRISTUS mengasihi jemaat, maka isteri dan anak-anak akan mengalami kesejahteraan, dan mereka dengan gampang tunduk dan menghormati suami, dan anak-anak tidak memberontak terhadap ayah mereka, seperti banyak keluarga saat ini. Begitu banyaknya keluarga bermasalah karena bapak tidak berperan sebagai Kristus, tapi berperan sebagai raja yang berkuasa dan memerintah dengan sewenang-wenang.

EFESUS 5:22: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada KRISTUS.

EFESUS 6:1: Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam TUHAN, karena haruslah demikian.

Gaya hidup Kerajaan Allah di dalam keluarga akan menghasilkan terobosan, jika kekuasaan sebagai raja yang diperankan oleh seorang bapak diperankan sebagai mana KRISTUS berperan, yang senantiasa menyelenggarakan kekuasaan-Nya dengan mengutamakan KASIH ALLAH.

Kasih Allah adalah sumber kasih para bapak untuk mengasihi keluarganya. Bapak-bapak hanya bisa mengasihi keluarganya, jika dia sudah terlebih dahulu mengalami kasih Allah. Jika dia tidak pernah mengalami kasih Bapa, maka dia tidak akan mungkin bisa mengasihi siapapun. Demikianlah seharusnya, jika ada bapak yang tidak bisa atau sulit untuk  mengasihi isteri dan anak-anaknya, maka dianjurkan agar dia meneliti hubungan dia dengan Bapa di sorga, dan membangun hubungan dengan Bapa di sorga. Jika tidak, maka dia tidak mungkin dapat mengasihi keluarganya apa lagi mengasihi sesamanya.

I YOHANES 4:19: Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Tanpa kita merasa dikasihi oleh Allah, maka suatu kemustahilan kita bisa mengasihi orang lain, karena kita juga tidak akan pernah mengasihi diri kita sendiri.

Saudara, mari mengalami terobosan dalam keluarga, dengan para bapak sebagai pemimpin menikmati hubungan yang intim dan manis dengan Bapa di sorga melalui Roh Kudus-Nya. Haleluya.

 

Oleh: Pnt. Robinson Saragih

 

GAYA HIDUP KERAJAAN ALLAH

Pnt. Leonardo Mangunsong

Pnt. Leonardo Mangunsong

 

Kerinduan dari Tuhan adalah agar kerajaan-Nya nyata di muka bumi melalui gereja-Nya. Hal ini dinyatakan-Nya melalui doa Bapa Kami.

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. (Matius 6:9-10)

Untuk mewujudkannya, Tuhan membawa kita untuk melihat Kerajaan Allah, kemudian masuk Kerajaan Allah dan pada akhirnya dimiliki oleh Kerajaan Allah, artinya memiliki gaya hidup Kerajaan Allah. Kelahiran kembali membuat kita melihat Kerajaan Allah.

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:3).

Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Yohanes 3:5).

Namun Allah tidak ingin kita hanya melihat Kerajaan Sorga, tetapi masuk Kerajaan Sorga. Dengan melakukan kehendak Allah, kita mulai masuk Kerajaan sorga.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21).

Orang-orang yang masuk Kerajaan Sorga adalah mereka yang memiliki gaya hidup di atas rata-rata, maksudnya bukan standar hukum Taurat yang mereka miliki, tetapi di atas hukum Taurat.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20)

Standar Kerajaan Sorga dinyatakan oleh ajaran Tuhan Yesus dalam kitab Matius pasal 5 ayat 21 s/d 48. Salah satu di antaranya adalah bahwa bukan hanya membunuh yang tidak boleh, tetapi perkataan kita, amarah serta penghakiman kita kepada orang lain juga sudah dinyatakan salah jika tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. (Matius 5:21-22).

Tuhan tidak ingin kita hanya melihat dan masuk Kerajaan Sorga. Tuhan ingin kita memiliki Kerajaan Allah, artinya memiliki gaya hidup dan karakter Kerajaan Allah, perubahan hidup yang merepresentasikan Yesus di muka bumi.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita. (1 Korintus 6:9-11).

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. (Galatia 5:19-26).

Jadi, tentang Kerajaan Allah, Allah ingin agar kita memiliki gaya hidup dan karakter Kerajaan Sorga. Dan gaya hidup Kerajaan sorga adalah gaya hidup yang:

  1. Fokus kepada Yesus Kristus, bukan kepada yang lain, seperti makanan dan minuman, tetapi memiliki sukacita, damai sejahtera dan kebenaran Tuhan (Roma 14:17);
  2. Hidup dalam Roh, memiliki keintiman yang dalam dengan Tuhan, sehingga dari keintiman yang dalam itu lahirlah karakter sorgawi;
  3. Hidup tidak hanya berkata-kata saja, tetapi hidup penuh kuasa (1 Korintus 4:20);
  4. Hidup dipimpin oleh Roh, sehingga senantiasa merepresentasikan kekudusan Tuhan, bahkan kebesaran dan kemuliaan Tuhan;
  5. Hidup yang tidak tergoncangkan oleh karena situasi dunia ini, termasuk persoalan-persoalan hidup, tidak kuatir, tidak bimbang ragu dan tidak ada kecemasan;
  6. Hidup dalam sukacita surga dan dalam pengucapan syukur serta dalam damai sejahtera;
  7. Hidup dalam kebenaran yang sejati; dan
  8. Hidup seperti Tuhan Yesus.

 

Marilah kita bangkit untuk mewujudkan kerinduan hati Tuhan, yaitu membawa kerajaan Allah melalui hidup kita di muka bumi.

 

Oleh: Pnt. Leonardo M

GAYA HIDUP KERAJAAN ALLAH

Pnt.Sahala Hutagalung

Pnt.Sahala Hutagalung

Syarat yang terpenting untuk memasuki Kerajaan Allah ialah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus Sang Raja.

Dalam kerajaan Allah, Yesus Kristus yang memerintah dengan berkuasa untuk mengalahkan dan menghancurkan pemerintahan Iblis yang ingin berkuasa atas hidup kita, atas keluarga, keuangan, pekerjaan (sekolah dan kuliah), dan juga atas kesehatan kita.

Setiap orang percaya yang tinggal dalam kerajaan-Nya diberi otoritas oleh Sang Raja untuk menaklukkan pekerjaan dan pengaruh Iblis yang mau bekerja untuk menghancurkan kehidupannya, termasuk  manusia di dunia. Kerajaan dan pemerintahan Iblis sudah dihancurkan dan tunduk di bawah kaki Yesus Kristus dan sekarang dinyatakan melalui anak-anak-Nya.

Orang percaya dalam kerajaan-Nya menyerahkan hidupnya untuk Sang Raja, di mana hidupnya dalam kebenaran-Nya, dan bersinar seperti matahari. Memberi hidup sepenuhnya untuk melayani Dia, bukan untuk diri sendiri, hidup dalam Firman-Nya, menanggalkan dosa, dan menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan.

Izinkan Sang Raja berkuasa untuk memerintah dalam hidup Saudara, rumah tangga Saudara, dalam keuangan Saudara, dalam pekerjaan Saudara, dalam kesehatan Saudara; biarkan  Dia yang mengatur dan mengendalikan seluruh aktivitas kehidupan sesuai dengan Firman-Nya.

Jangan takut untuk memunyai pendirian dan gaya hidup Kristiani yang berbeda di dalam dunia sekuler. Walau bertentangan dan bertolak belakang, karena memang Saudara orang yang dipilih dari dunia tapi bukan milik dunia ini, sehingga gaya hidup Kerajaan Allah yang Saudara ikuti.

Gaya hidup kerajaan Allah membawa dampak ke dalam hidup kita, keluarga kita, dalam keuangan kita, pekerjaan kita, kesehatan kita. Gaya hidup Kerajaan Allah menjadi  panutan dalam keintiman kita dengan Tuhan, sehingga setiap anggota keluarga tunduk kepada otoritas yang di atasnya. Suami, istri dan anak-anak saling mengasihi dan saling menghormati, tidak memberontak dan bermusuhan satu dengan yang lain; semua cinta damai.

Gaya hidup kerajaan Allah di mana anak Tuhan menikmati hidup dalam segala kelimpahan yang Tuhan sudah janjikan. Setiap kita dapat mengatur keuangan dengan kebenaran-Nya, membeli dan membelanjakan sesuai dengan keperluan.

Gaya hidup kerajaan Allah dalam pekerjaan: setiap kita semua memunyai waktu 24 jam sehari, bagaimana  menggunakan  waktu itu. Pengaturan waktu, merencanakan kegiatan, dan daftar prioritas yang mau dikerjakan.

Gaya hidup kerajaan Allah dalam menjaga kesehatan: Tuhan memberikan organ tubuh dan anggota tubuh dalam setiap kita untuk dipelihara dan dijaga, sehingga kita dapat menggunakannya untuk melayani Dia. Mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, istirahat yang cukup  adalah cara agar Saudara tidak sakit.

Jemaat Tuhan yang saya kasihi, biarlah gaya hidup Kerajaan Allah menjadi bagian dalam hidup Saudara sehingga kita menjadi saksi bagi banyak orang. Tuhan yang memerintah dan berkuasa atas Saudara untuk menerobos dari yang mustahil menjadi yang tidak mustahil dalam  kerajaan-Nya.

Ayat referensi: Yakobus 4:7; Efesus 5:22; Efesus 6:1,5; Yohanes 10:10b; Kolose 3:22-24.

 

Oleh: Pnt. Sahala Hutagalung

MENEMUKAN TALENTA DAN KARUNIA

Pnt. Leonardo Mangunsong

Pnt. Leonardo Mangunsong

Dalam Matius 25:14-15 dikatakan: Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Maksudnya adalah bahwa setiap orang di muka bumi pastilah memiliki talenta.

Yang penting dalam hal talenta bukanlah jumlah talenta yang dimiliki, melainkan tanggung jawab terhadap talenta yang diberikan kepada kita. Dan talenta tersebut harus dikembangkan dan bukan disimpan saja.

Hal yang harus kita ketahui juga, bahwa talenta tersebut diberikan oleh Tuhan kepada kita, artinya, dalam hal ini Tuhan yang punya kedaulatan.

I Korintus 12:7-11 mengatakan: ”Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan,kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan muzizat dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat dan kepada yang lainkali Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh kepada yang seorang ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh,dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Sama seperti talenta, karunia rohani juga diberikan oleh Tuhan kepada setiap kita yang percaya kepada Dia.

Dari kedua ayat firman Tuhan di atas, jelas dikatakan bahwa talenta dan karunia rohani datangnya dari Tuhan dan diberikan kepada kita masing-masing seperti yang Tuhan kehendaki. Karena itu, untuk menemukan talenta dan karunia yang Tuhan berikan kepada kita, maka kita harus bertanya kepada Tuhan dan bergaul dengan Tuhan, sehingga kita dapat memahami apa yang Tuhan karuniakan kepada kita. Caranya adalah dengan membangun keintiman dengan Tuhan, sampai kita memahami karunia rohani yang Tuhan berikan kepada kita.

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (I Korintus 2:12-13,16).

Manusia duniawi kita tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya karena hal itu hanya dapat dinilai secara rohani, sehingga untuk menemukan talenta dan karunia rohani, kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan  yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, dan juga tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budi, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Selain itu, kita harus membangun rasa lapar dan haus akan Tuhan dengan kesungguhan hati. “Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah (Amsal 2:4-5), maka Tuhan akan menuntun kita menemukan talenta dan karunia rohani yang Dia berikan kepada kita. Bahkan hati kita, kemampuan, kepribadian dan pengalaman kita, akan Tuhan kemas sedemikian rupa agar kita dapat menemukan panggilan kita, bahkan dapat mengembangkannya, tidak lalai menggunakan serta mengobarkannya, sehingga kita menjadi maksimal dan efektif serta efesien untuk menyelesaikan dan mengerjakan tujuan Tuhan dalam hidup kita, seperti yang dimaksudkan Tuhan dalam Efesus 2:10: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

 

Oleh: Pnt Leonardo Mangunsong

MENTALITAS ANAK SULUNG

Pnt. Leonardo Mangunsong

Pnt. Leonardo Mangunsong

Tema gereja kita tahun 2017 ini adalah Arise and Shine, Bangkitlah dan Bersinarlah.

Kebangkitan hanya bisa terjadi ketika seseorang berjumpa dengan Firman Tuhan, seperti yang dialami oleh Gideon. Dalam ketakutan dan kekalahan yang dialaminya karena perlakuan orang-orang Midian, Gideon bangkit karena Tuhan berkata bahwa Tuhan menyertai dia dan dia adalah pahlawan Tuhan.

Bangkit oleh karena memahami firman Tuhan bersifat kekal, di mana kebangkitan dalam hidup kita bukan hanya sebatas tema tahun ini saja, tetapi untuk  seterusnya kita alami kebangkitan; tidak stagnasi lagi, karena firman yang kita miliki itu bersifat kekal adanya.

Dalam beberapa minggu lalu, kita membahas topik tentang kebangkitan gereja karena firman Tuhan, dan diharapkan kita bangkit juga dalam visi dan misi; dalam memahami identitas diri kita, dan minggu ini Tuhan rindu kita mengalami kebangkitan dalam mentalitas hidup kita.

Anak yang sulung dalam Lukas 15:25-32 tinggal di rumah bapanya, tidak berbuat jahat dan tunduk kepada bapanya. Posisinya adalah sebagai anak, tetapi tidak memiliki mentalitas sebagai anak, sehingga posisi sebagai anak tidak dibarengi dengan gaya hidup, cara berpikir dan karakter sebagai anak.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:25-32)

Mentalitas anak sulung, sebagai anak dia masih memiliki pikiran duniawi: marah, iri hati, kesombongan, ketulusan yang disertai ambisi-ambisi yang salah, hidup munafik, dan tidak mengenal bapanya.

Banyak anak Tuhan yang sudah lama ikut Tuhan, berposisi sebagai anak Tuhan, bahkan sebagai pelayan Tuhan, namun mentalitasnya seperti anak yang sulung, sehingga mengalami banyak persoalan dan ketidakmerdekaan secara rohani, dan ini menjadi persoalan besar dalam gereja; bersifat kekanak-kanakan, sehingga gereja tidak menjadi dewasa dalam banyak hal dan tidak mau bertobat.

Anak yang bungsu, yang lebih dikenal, seperti anak yang sulung, pada awalnya dia juga memiliki mentalitas yang salah; sebagai anak tapi hidup dalam dosa, hidup foya-foya, akhirnya menderita oleh karena perbuatannya sendiri; tetapi dia bangkit dengan menyadari bahwa dia dengan posisi sebagai anak tentunya tidak perlu hidup dengan mental anak gampangan tetapi mental anak seorang bapa.

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. (Lukas 15:17)

Untuk mengalami perubahan mentalitas perlu sekali kita menyadari akan posisi kita di hadapan Tuhan dan realita yang kita alami di dalam Tuhan. Kesadaran tersebut ada karena kita bercermin kepada firman Tuhan, bukan dengan filsafat dunia ini.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.  (Lukas 15:18-19)

Anak bungsu ini tidak hanya berwacana akan bangkit serta menyadari kondisinya, namun dia bertindak untuk bangkit.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Lukas 15:20)

Anak yang bungsu memiliki mentalitas yang benar, dengan cara menyadari posisinya, bertobat dan langsung bangkit karena pemahaman yang benar terhadap posisinya dan bapanya, namun anak sulung memiliki mentalitas yang salah, sehingga menemui kegagalan.

Bagi jemaat Tuhan di tempat ini, marilah kita terus bersekutu dengan Tuhan dalam firman-Nya, melalui doa, pujian, dan penyembahan. Kita akan mengalami firman yang rhema yang membuat kita memahami posisi kita dan memiliki pola pikir yang sesuai dengan firman Tuhan, sehingga kita alami kebangkitan. Dari hal inilah kita dapat membuat pergerakan–pergerakan dan mengalami kebangunan rohani, sehingga setan tidak lagi mampu menipu dan mengintimidasi pikiran dan mental kita untuk menjadi gagal dan kalah, dan karena jamahan Roh Allah serta keintiman kita dengan Dia membuat hal itu senantiasa terjadi.

Milikilah mentalitas yang benar melalui keintiman dengan Tuhan.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3)

 

By: Pnt. Leonardo Mangunsong