• <font face=Thema: Arise and Shine to be a Witness" />
  • Visi
  • MISI
  • NILAI-NILAI

MEMBANGUN KEINTIMAN DENGAN BAPA

Pnt. Leonardo Mangunsong

 Ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat kita dan tinggal dalam hati melalui proses kelahiran kembali, maka kita disebut sebagai anak Allah; punya hubungan yang spesial dengan Tuhan: Dia Bapa dan kita anak-Nya.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16)

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6)

Akibatnya kita memiliki manusia rohani yang dapat terhubung dengan Tuhan yang diselubungi oleh manusia jasmani kita. Manusia rohani ini harus kita bangun melalui keintiman dengan Tuhan, sehingga manusia jasmaniah kita akan menjadi seperti Yesus, baik karakter kita, gaya hidup, termasuk pola pikir kita.

 

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari (II Korintus 4:16)

Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (II Korintus 3:18)

Kita membangun manusia rohani dalam keintiman dengan Bapa melalui perenungan firman Tuhan, doa, dan penyembahan. Namun, bersyukur karena Tuhan juga memberikan kepada kita fasilitas dari surga yaitu karunia Roh Kudus, salah satunya karunia bahasa lidah yang dapat kita gunakan dalam doa pribadi, dalam ibadah, bahkan di manapun kita berada.

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (1 Korintus 14:2)

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat (I Korintus 14:4)  

Itulah sebabnya Allah ingin kita membangun manusia rohani kita dan bersekutu dengan Dia menggunakan bahasa roh. Dan ketika kita menggunakan bahasa roh, Tuhan akan membawa kita untuk menyembah, berdoa, bahkan kita dapat merasakan isi hati dan perasaan serta pikiran Tuhan.

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh (I Korintus 2:13)

Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (I Korintus 2:16)

Selain kita mengalami keintiman yang dalam dengan Bapa, kita juga dapat menanggulangi pikiran dan keinginan daging kita karena pekerjaan roh-roh dunia ini, yang coba menghalangi kita untuk menerima pernyataan dan inspirasi dari Roh Tuhan. Hal ini penting sekali karena kita perlu tuntunan Roh Kudus untuk kehidupan kita sehari-hari; mendengar suara Tuhan, ilham Roh Kudus yang dapat membuat kita mengerti jalan-jalan Tuhan serta dengan taat mengerjakannya.

Keintiman dengan Tuhan akan membuat kita menjadi gereja yang antusias; pribadi kita menjadi penuh gairah, gelora, semangat yang berkobar-kobar, berapi-api, dan menyala-nyala bagi Tuhan dan rencana-Nya. Hal tersebut terjadi karena kita mendengar suara Tuhan, menerima inspirasi dari Tuhan. Dan itu merupakan janji dan arahan Tuhan bagi kita untuk setiap aspek hidup kita.

Akan lebih luar biasa apabila setiap hal yang kita dengar kita catat serta kita deklarasikan, agar hal tersebut segera digenapi dalam hidup kita. Kita harus hidup dalam pola ini, sehingga apapun yang kita kerjakan selalu berasal dari arahan Tuhan, bukan mengandalkan kekuatan, kemampuan serta pikiran dan pengalaman kita, tetapi benar-benar dari Tuhan, dan apapun yang kita kerjakan selalu berhasil karena Tuhan sendiri yang membela kita untuk melaksanakan maksud dan tujuan Tuhan bagi hidup kita.

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (I Yohanes 1:1-3)

Jemaat Tuhan, marilah kita membangun manusia rohani kita dalam keintiman dengan Bapa; masuk dalam hadirat-Nya melalui pujian, penyembahan dan doa, serta gunakan bahasa roh, sehingga kita mengalami keantusiasan terhadap Tuhan, dan pada akhirnya kita dapat mendengar suara Tuhan. Pernyataan Tuhan inilah yang menjadi arahan bagi kita untuk kita lakukan, catatlah, dan kemudian doakanlah supaya hal tersebut digenapi. Dengan demikian kita benar-benar hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh, dan kehidupan kita menjadi berhasil.

 

Oleh: Pnt. Leonardo Mangunsong

MENTALITAS ANAK SULUNG

Pnt. Leonardo Mangunsong

Pnt. Leonardo Mangunsong

Tema gereja kita tahun 2017 ini adalah Arise and Shine, Bangkitlah dan Bersinarlah.

Kebangkitan hanya bisa terjadi ketika seseorang berjumpa dengan Firman Tuhan, seperti yang dialami oleh Gideon. Dalam ketakutan dan kekalahan yang dialaminya karena perlakuan orang-orang Midian, Gideon bangkit karena Tuhan berkata bahwa Tuhan menyertai dia dan dia adalah pahlawan Tuhan.

Bangkit oleh karena memahami firman Tuhan bersifat kekal, di mana kebangkitan dalam hidup kita bukan hanya sebatas tema tahun ini saja, tetapi untuk  seterusnya kita alami kebangkitan; tidak stagnasi lagi, karena firman yang kita miliki itu bersifat kekal adanya.

Dalam beberapa minggu lalu, kita membahas topik tentang kebangkitan gereja karena firman Tuhan, dan diharapkan kita bangkit juga dalam visi dan misi; dalam memahami identitas diri kita, dan minggu ini Tuhan rindu kita mengalami kebangkitan dalam mentalitas hidup kita.

Anak yang sulung dalam Lukas 15:25-32 tinggal di rumah bapanya, tidak berbuat jahat dan tunduk kepada bapanya. Posisinya adalah sebagai anak, tetapi tidak memiliki mentalitas sebagai anak, sehingga posisi sebagai anak tidak dibarengi dengan gaya hidup, cara berpikir dan karakter sebagai anak.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:25-32)

Mentalitas anak sulung, sebagai anak dia masih memiliki pikiran duniawi: marah, iri hati, kesombongan, ketulusan yang disertai ambisi-ambisi yang salah, hidup munafik, dan tidak mengenal bapanya.

Banyak anak Tuhan yang sudah lama ikut Tuhan, berposisi sebagai anak Tuhan, bahkan sebagai pelayan Tuhan, namun mentalitasnya seperti anak yang sulung, sehingga mengalami banyak persoalan dan ketidakmerdekaan secara rohani, dan ini menjadi persoalan besar dalam gereja; bersifat kekanak-kanakan, sehingga gereja tidak menjadi dewasa dalam banyak hal dan tidak mau bertobat.

Anak yang bungsu, yang lebih dikenal, seperti anak yang sulung, pada awalnya dia juga memiliki mentalitas yang salah; sebagai anak tapi hidup dalam dosa, hidup foya-foya, akhirnya menderita oleh karena perbuatannya sendiri; tetapi dia bangkit dengan menyadari bahwa dia dengan posisi sebagai anak tentunya tidak perlu hidup dengan mental anak gampangan tetapi mental anak seorang bapa.

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. (Lukas 15:17)

Untuk mengalami perubahan mentalitas perlu sekali kita menyadari akan posisi kita di hadapan Tuhan dan realita yang kita alami di dalam Tuhan. Kesadaran tersebut ada karena kita bercermin kepada firman Tuhan, bukan dengan filsafat dunia ini.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.  (Lukas 15:18-19)

Anak bungsu ini tidak hanya berwacana akan bangkit serta menyadari kondisinya, namun dia bertindak untuk bangkit.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Lukas 15:20)

Anak yang bungsu memiliki mentalitas yang benar, dengan cara menyadari posisinya, bertobat dan langsung bangkit karena pemahaman yang benar terhadap posisinya dan bapanya, namun anak sulung memiliki mentalitas yang salah, sehingga menemui kegagalan.

Bagi jemaat Tuhan di tempat ini, marilah kita terus bersekutu dengan Tuhan dalam firman-Nya, melalui doa, pujian, dan penyembahan. Kita akan mengalami firman yang rhema yang membuat kita memahami posisi kita dan memiliki pola pikir yang sesuai dengan firman Tuhan, sehingga kita alami kebangkitan. Dari hal inilah kita dapat membuat pergerakan–pergerakan dan mengalami kebangunan rohani, sehingga setan tidak lagi mampu menipu dan mengintimidasi pikiran dan mental kita untuk menjadi gagal dan kalah, dan karena jamahan Roh Allah serta keintiman kita dengan Dia membuat hal itu senantiasa terjadi.

Milikilah mentalitas yang benar melalui keintiman dengan Tuhan.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3)

 

By: Pnt. Leonardo Mangunsong