Suara Penatua April 2021

Judul

Sebagai umat Tuhan yang sedang fokus untuk membangun Rumah Kasih sebagai tempat kediaman bangsa-bangsa, maka dalam membangunnya kita harus memahami bahwa kasih selalu disertai dengan pengorbanan. Allah Bapa telah memberikan teladan ini kepada kita bahwa ketika Bapa mengasihi dunia ini ada korban yang diberikan kepada manusia ketika Allah menunjukkan kasihNya kepada kita dan korban itu adalah Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Apa yang Tuhan perbuat bagi kita bahwa mengasihi kita dan berkorban, haruslah menjadi pola bagi kita bahwa ketika kita mengasihi Tuhan maka kita pun harus rela berkorban. Dan hal itulah yang Tuhan ajarkan kepada murid-murid-Nya.

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:24-25)

Jika kita ingin mengasihi Tuhan maka kita harus mengikut Dia dan bukan dunia ini dan mau menyangkal diri dan memikul salib. Dan salib yang kita pikul bukanlah merupakan beban bagi kita namun hal tersebut merupakan kehormatan bagi kita untuk berkorban dalam mengikut Dia sehingga kita tidak mencintai dunia ini tetapi cinta mati kepada Tuhan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30)

Dan Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada kita agar kita melepaskan diri kita dari segala yang kita miliki agar kita menjadi murid-Nya yang sejati.

“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” (Lukas 14:33)

Kita tidak memiliki apa-apa lagi kecuali Yesus sehingga fokus kita tidak dialihkan kepada hal-hal yang fana termasuk kepada hal-hal kepentingan pribadi kita, yaitu ambisi pribadi, cita-cita pribadi dan tujuan-tujuan pribadi.

Rasul Paulus yang sangat mengasihi Tuhan memiliki komitmen yang luar biasa dalam mengasihi dan mengikut Tuhan. Dimana hal ini juga yang menjadi komitmen kita untuk mengasihi Tuhan dan mau berkorban.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Filipi 3:7-8)

Dengan pemahaman dimana Yesus mengasihi kita dan mau berkorban, demikian juga kita mau mencintai Tuhan dan mau berkorban, maka hidup kita dalam membangun Rumah Kasih juga mau mengasihi saudara seiman dan orang-orang lain dan disertai dengan keinginan untuk berkorban.

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:15-16)

Berbuat baik, memberi bantuan, menolong orang lain di mana kita melakukan sebagai wujud nyata dalam mengasihi orang lain. Justru di tengah-tengah masa pandemi Covid-19 saat ini kita harus lebih banyak berbuat baik dengan memberi bantuan dan menolong orang lain, terutama saudara seiman. Karena dampak dari pandemi ini banyak orang-orang terpuruk secara ekonomi, adanya PHK, pemotongan jam kerja, dan lain-lain. Marilah kita berkorban karena kasih kita kepada orang lain.

“Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”  (Yesaya 58:6-7)

Hal mengasihi tersebut kita wujudkan melalui puasa maka Tuhan ingin agar kita mewujudkan kasih tersebut dengan rela berkorban, dimana itulah wujud puasa yang benar yaitu mengasihi orang lain lebih dari diri kita sendiri dimana seolah-olah kita tidak lagi berpikir tentang diri kita sendiri tetapi lebih fokus kepada kebutuhan orang lain.

Dan Tuhan berjanji bahwa Rumah Kasih itu akan penuh dengan kehadiran akan kemuliaan Tuhan.

“Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni””  (Yesaya 58:8-12)

Ketika kita mengasihi orang lain dengan berkorban, menolong orang lain, memberi tanpa pamrih dan berdoa serta berpuasa dengan benar untuk kepentingan orang lain, maka kita akan dibawa oleh Tuhan untuk mengalami Dia dan kehadiran-Nya yang sangat nyata serta pemulihan jiwa-jiwa serta tempat-tempat serta area-area yang akan kita jangkau sepanjang tahun ini.

Para penatua mengajak seluruh jemaat dimanapun saudara berada untuk bergandengan tangan melakukannya, mengasihi dan rela berkorban bagi orang lain seperti yang sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada kita.

About the Author: Ervinna Graceful