Suara Penatua Februari 2021

WhatsApp Image 2021-01-26 at 09.25.40LOVE AND RELATIONSHIP

Penulis : Pnt Timotius Chandra

 

Tema kita tahun ini adalah
“Membangun rumah kasih sebagai tempat kediaman bangsa-bangsa.”

Untuk membangun rumah kasih diperlukan pemahaman dan pengertian yang sama sehingga setiap kita bisa bergerak bersama-sama untuk mengalami dan menggenapinya.

Dalam bulan Februari ini kita akan belajar bersama-sama bagaimana kasih dan hubungan itu dipraktekkan dalam rangka membangun rumah kasih.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:12-14)

Ketika Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Kolose , ia menyadari keragaman dalam jemaat dan mengingatkan bahwa tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi “KRISTUS ADALAH SEMUA DAN DI DALAM SEGALA SESUATU.”

Adanya berbagai perbedaan seringkali menimbulkan konflik, pertentangan dan pertengkaran. Rasul Paulus mendorong jemaat Kolose dan juga kita semua untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, dan yang paling utama adalah KASIH sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan

Apakah ciri-ciri orang yang memiliki kasih itu?

1. Memiliki belas kasihan
Belas kasihan dalam bahasa Ibrani “ra · khamim”, diartikan sebagai ”bercahaya, mempunyai perasaan hangat, lembut dan hati yang iba”.
Kita mungkin bisa berbuat baik dan melakukan pelayanan, tapi tanpa belas kasihan, semua yang kita lakukan hanya menjadi rutinitas dan kewajiban. Itu sebabnya banyak orang yang akhirnya menjadi lelah dan tidak mau lagi memikirkan orang lain karena tidak ada belas kasihan Tuhan yang memenuhinya.

2. Memiliki kemurahan hati
Kita bisa memberi tanpa kasih tapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi.
Allah itu kasih dan Ia murah hati. Jika kita sudah menerima Pribadi-Nya yang adalah Kasih, maka sudah sepatutnya kita bermurah hati kepada yang lain. Murah hati dalam waktu, harta, tenaga, pengampunan, dan semua sumber daya yang Tuhan sudah karuniakan bagi kita.
Ketika kita tidak menyadari kemurahan yang sudah kita terima, kita akan sama seperti hamba yang dibebaskan dari hutang sebesar sepuluh ribu talenta (sekitar 60 juta dinar atau kira-kira 100 Triliun Rupiah) namun tidak memberi kemurahan bagi orang yang berhutang kepadanya sebesar 100 dinar (sekitar 3 juta Rupiah) saja.

3. Memiliki kerendahan hati
Kerendahan hati adalah salah satu indikator dari kedewasaan spiritual. Seseorang yang tidak rendah hati, berarti belum mencapai berdamai dengan dirinya.
Pribadi yang rendah hati memandang orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang unik dan istimewa. Ia sadar bahwa ia perlu belajar dalam segala hal dan belum mengetahui segalanya.
Mari kita belajar rendah hati, dengan cara mengapresiasi kelebihan rekan-rekan kita dan bersedia mendengarkan. Mendengar berarti mau membuka diri dan menerima pribadi saudara kita sekalipun kita tidak selalu setuju dengan semua pendapat dan perilakunya.

4. Memiliki kelemahlembutan
Dalam bahasa Yunani kata yang digunakan untuk lembut adalah “praus” atau “praotes” yang menggambarkan kuda yang sudah jinak dan dikendalikan.
Seseorang dikatakan lemah lembut bukan ketika ia berbicara dengan nada lembut, tapi ketika:
(1) Ia memiliki kehendak dan bersedia menundukkan kehendaknya dibawah kehendak
Tuhan.
(2) Ia tidak lekas marah dan jika marah, ia dapat menguasai kemarahannya.
(3) Ia menghadapi orang-orang yang lebih tinggi tanpa menjadi rendah diri dan orang-orang
yang lebih rendah tanpa menjadi tinggi hati.

5. Memiliki kesabaran
Kesabaran adalah kunci untuk membangun hubungan kerjasama yang baik. “Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.” (Amsal 15:18).
Pertengkaran dan permusuhan terjadi ketika ada pihak yang tidak sabar atau mudah tersulut emosi. Kesabaran adalah pelajaran seumur hidup. Kita perlu belajar dari Tuhan Yesus untuk sabar tanpa mengkompromikan dosa.

6. Suka mengampuni
Menjadi pengikut Kristus berarti diampuni dan diterima oleh Allah, dan karena itu kita dimampukan untuk menerima dan mengampuni orang lain.
Apakah tandanya kita sudah mengampuni? Ketika kita bisa mengingat hal-hal tidak enak yang terjadi tanpa terluka kembali tapi sebaliknya bisa bersyukur karena melihat tangan Tuhan yang bekerja dalam semuanya.

Mengampuni tidak berarti kita mentoleransi dosa, tetapi kita memutuskan untuk tidak dibelenggu oleh sakit hati dan kekecewaan terus menerus. Mengampuni adalah keputusan dan pilihan, bukan perasaan. Apakah Saudara sudah mengampuni apa yang perlu Saudara ampuni hari ini?

Mari saya sebagai Penatua, mengajak seluruh rekan-rekan di GKKD-BP mulai dari Para Penatua, Pendeta, Struktur dan Seluruh jemaat baik yang ada di Bandung, Area Pengembangan dan Daerah Misi yang berada di Indonesia dan Bangsa-Bangsa, kita terus hidup di dalam kasih. Biarlah kasih itu yang menjadi dasar bagi kita untuk membangun hubungan satu dengan lainnya dan menjadi pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Jika ada hal-hal yang dirasa perlu dibereskan satu dengan yang lainnya, marilah kita melakukannya dengan penuh semangat, dengan dasar karena kita saling mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita terlebih dahulu. Kita percaya bahwa ketika kasih itu terbangun diantara kita, maka akan dengan mudah Tuhan mencurahkan berkat-Nya bagi kita gereja-Nya! Haleluya , untuk mengalami Unlimited Blessing tetap bersinar meskipun dalam kondisi Covid-19 , Tuhan memberkati kita semua, Amin.

About the Author: Ervinna Graceful