SALING MENGAMPUNI DAN BUKAN MENGHAKIMI

Pnt. Leonardo Mangunsong

Dalam  kehidupan  berjemaat dalam gereja lokal sering terjadi perpecahan, kekacauan dan keterlukaan di dalam jemaat karena kehidupan yang saling menghakimi, memfitnah dan mengkritik yang tidak membangun.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu terjadi, di antaranya:

  1. 1. Setelah kita mengetahui kebenaran atau hukum Tuhan, kita cenderung untuk memakai kebenaran atau hukum tersebut untuk menghakimi, memfitnah atau mengkritik sesama kita. Seharusnya kebenaran atau hukum itu kita pakai untuk menasehati, menegur dan mengkritik untuk membangun orang lain, sehingga kebenaran atau hukum yang kita ketahui itu menjadi berkat bagi orang lain, seperti orang Farisi di zaman Tuhan Yesus, di mana mereka merasa banyak tahu hukum dan kebenaran tetapi hukum tersebut mereka pakai untuk menghakimi dan menyalahkan orang lain dalam sikap yang sombong secara rohani. Itulah sebabnya Yesus selalu menegur sikap-sikap mereka yang salah.

Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia? (Yakobus 4 : 11- 12)

  1. Ketika kita mengetahui kesalahan atau dosa orang lain, bukan secara langsung kita mengetahuinya, melainkan dari orang lain, dan tanpa menyelidiki keabsahannya, namun berita tersebut kita bicarakan, digosipkan, maka hal tersebut merupakan penghakiman dan fitnah terhadap sesama kita. Seharusnya kita mencari kebenaran berita tersebut, sehingga kita dapat menegur dan menasehati saudara seiman kita.

Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! (Roma 14:13)

  1. Kita mencoba melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, namun sesungguhnya kita pun memiliki banyak kelemahan. Sikap penghakiman kita terhadap orang lain sepertinya untuk menutup kelemahan kita; hal ini seperti yang dilakukan oleh orang Farisi, yang menghakimi perempuan yang melakukan perzinahan.

Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. (Roma 2:1)

 

Tuhan Yesus ingin agar kita belajar hidup seperti Dia, di mana Dia adalah Hakim, namun rela untuk menyelamatkan. Tuhan tahu dosa dan kelemahan manusia, tetapi Dia mengampuni dosa manusia, bukan menjatuhkan manusia kepada dosa. Kecenderungan manusia adalah tahu dosa atau kesalahan orang lain, tapi cenderung untuk menghakimi, memfitnah, dan mengktirik  orang lain, dan tidak berkuasa untuk menyelamatkan orang tersebut. Satu-satunya cara Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah dengan mengampuni dosa manusia. Itulah sebabnya Tuhan ingin agar kita hidup saling mengampuni, bukan menghakimi.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Pengampunan terhadap orang lain bukan hanya membuat kita tidak menghakimi dan memfitnah mereka, tetapi kita bisa bersikap ramah dan hidup dalam kasih mesra terhadap orang lain.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:32)

Tujuannya adalah agar terang Kristus menjadi nyata melalui karakter kita, di mana kita hidup saling mengampuni dan tidak menghakimi atau memfitnah.

Para penatua mengajak seluruh jemaat agar hidup tidak saling menghakimi, memfitnah, dan mengkritik yang tidak membangun, tetapi hidup saling mengampuni dan saling mengasihi, agar tidak timbul perpecahan, kekacauan, iri hati, serta kepahitan di antara jemaat.

 

Oleh: Pnt. Leonardo Mangunsong

About the Author: Sorta Meralda Tobing