MENJADI PERABOT YANG MULIA

Pnt.Sahala Hutagalung

Pnt.Sahala Hutagalung

 2 Timotius 2: 20-25

Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.

Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

Saudaralah perabot itu, yang akan dipakai Allah untuk maksud yang mulia karena terbuat dari emas, “anak anak Sion yang berharga, yang setimbang dengan emas tua, sungguh mereka dianggap belanga-belanga tanah buatan tangan tukang periuk” (Ratapan 4:2).

Tuhan Allah akan memakai Saudara dan saya menjadi Sion yang yang berharga, menjadi alat-Nya untuk  mengerjakan pekerjaan-Nya yang mulia, engkau berharga di mata-Nya, engkau akan dipakai untuk mengerjakan pekerjaan yang indah dan harum, yang dapat terlihat dan tercium baunya ke mana-mana.

Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa (Roma 9:21).

Kita semua harus siap dibentuk oleh Tuhan menjadi tujuan-Nya Allah untuk dipakai guna pekerjaan yang mulia, bukan yang biasa-biasa. Dalam proses pembentukan mungkin kita akan mengalami kesakitan dan kepedihan dikarenakan sedang ditempa oleh Dia. Tidak mudah dan mungkin lama proses pembentukannya dikarenakan kita yang tidak mau dan masih mau memberontak mengikuti keinginan daging dan nafsu.

Jika Saudara mau dipakai Tuhan menjadi perabot yang mulia, Saudara dan saya harus hidup menyucikan diri dari hal-hal yang jahat yaitu nafsu orang muda, menghindari soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak, soal-soal yang menimbulkan pertengkaran.

Perzinahan, keserakahan, kelicikan, hawa nafsu, pikiran yang jahat dan kotor harus dibuang, jangan izinkan masuk lagi ke dalam hati, pikiran dan tindakan kita. Saudara harus menang dalam ingin tahu persoalan orang lain, yang menimbulkan pertengkaran, gosip dan sakit hati.

Sebagai anak Tuhan yang sudah dikuduskan, hendaklah nyata kehadiran Allah di tengah-tengah hidup Saudara, di mana terang sinar kemuliaan Allah yang menyinari hidup Saudara, sehingga nyata Kristus yang hidup di dalam Saudara. Kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai, janganlah Saudara bertengkar dengan orang lain, melainkan menjadi orang yang ramah dan lemah lembut.

Jemaat Tuhan yang saya kasihi, jadilah perabot yang mulia, yang dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang mulia. Amin.

 

Oleh: Pnt. Sahala Hutagalung

About the Author: Sorta Meralda Tobing