• <font face=Arise and Shine to be a Witness" />
  • Visi
  • MISI
  • NILAI-NILAI

PENYEMBAHAN DAN IMPARTASI HATI BAPA ATAS INDONESIA DAN BANGSA-BANGSA

Pnt. Leonardo MangunsongTuhan sedang membangun gereja-Nya yang bergerak dengan urapan profetik dan apostolik. Profetik adalah kemampuan untuk menangkap isi hati Tuhan melalui mendengar suara-Nya, yang dimulai dengan membangun keintiman dengan Tuhan lewat doa, pujian, dan penyembahan. Apostolik adalah kemampuan untuk membangun tepat seperti apa yang didapat, didengar, dan diarahkan oleh Tuhan, sehingga Kerajaan Allah menjadi nyata di muka bumi.

Pertemuan antara nabi dan pengajar di Anthiokia merupakan contoh nyata dari Tuhan untuk gereja-Nya, bagaimana gereja Tuhan dapat mengalami impartasi hati Tuhan untuk mengerjakan rencana Tuhan. Bagi kita gereja Tuhan di tempat ini, rencana-Nya adalah untuk Indonesia dan bangsa-bangsa penuh kemuliaan Tuhan.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi (Kisah Para Rasul 13:1-3)

Ada beberapa poin yang perlu kita pahami supaya kita mengalami impartasi hati Tuhan, yaitu:

  1. Mereka berkumpul bersama dalam kondisi beribadah dan berpuasa.

Dalam hal beribadah, artinya mereka sedang memuji, menyembah Tuhan serta berdoa, pastilah dengan kesungguhan hati dan fokus kepada Tuhan, apalagi disertai dengan puasa, sangat intim dan sangat pribadi. Dalam kebersamaan persekutuan tersebut, mereka bukan hanya menyanyi, memuji, dan menyembah serta berdoa, tetapi dalam roh mereka terjadi dialog dengan Roh Tuhan yang dapat memisahkan mereka dari keinginan jiwa (perasaan, pikiran, dan kehendak) dan keinginan tubuh mereka. Ada aktivitas pekerjaan Roh Allah dalam roh mereka, sangat intim.

Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia (I Korintus 6:17)

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”  Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:15-16)

Dalam pujian, penyembahan, dan doa tersebut, mereka dapat menangkap hati Tuhan; Tuhan berbicara kepada mereka, baik secara pribadi maupun bersama-sama, dan mereka mendengar suara Tuhan; mereka mengalami pelayanan kenabian, profetik, dan Allah berbicara kepada mereka dan menerima perintah Tuhan, arahan Tuhan. Kita juga dapat mengalami hal tersebut karena peristiwa kelahiran kembali, Roh Allah tinggal dalam kita maka kita dapat mendengar suara-Nya karena Dia berbicara kepada kita. Yang perlu dibangun adalah kehidupan penyembahan dan doa kepada Tuhan.

  1. Mereka bergerak karena disuruh oleh Tuhan, ada tugas khusus dari Tuhan karena Dia berbicara.

Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus.  Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka (Kisah Rasul 13:4-5)

Saulus dan Barnabas pergi karena disuruh Roh Kudus. Mereka pergi untuk melayani, karena mereka mengalami pelayanan apostolik. Pada awalnya mereka mendengar arahan Tuhan, menangkap isi hati Tuhan (profetik) dan kemudian mereka kerjakan apa yang menjadi arahan Tuhan (apostolik).

Demikian pula kita jemaat Tuhan di tempat ini, ketika kita hidup dalam pujian, penyembahan, dan doa, dalam keintiman yang dalam dengan Tuhan, maka kita akan memahami isi hati Tuhan, mendengar suara-Nya dan dengan arahan Tuhan itulah kita bergerak untuk menjangkau bangsa-bangsa bagi kerajaan-Nya. Gereja yang demikianlah yang Tuhan bangun di tengah-tengah kita dan di negeri ini, untuk menjadi rekan sekerja Tuhan di muka bumi, khususnya di negeri ini.

Marilah kita hidup dalam polanya Tuhan, mengerjakan hati Tuhan untuk misi di negeri ini, sehingga setiap pergerakan misi, apostolic, selalu diawali oleh pernyataan profetik dari Tuhan, seperti apa yang dialami oleh Paulus: dari Seleukia, ke Siprus, Salamis, Pafos, Perga dan kembali ke Anthiokhia, Injil Kerajaan Allah diberitakan disertai tanda-tanda dan mujizat, dan kuasa Iblis dipatahkan. Roh Allah menuntun mereka untuk melakukan pelayanan  misi, maka kita pun akan mengalami hal yang sama dalam tuntunan Roh Allah untuk menyelesaikan pekerjaan misi di Indonesia dan bangsa-bangsa.

Hiduplah dalam penyembahan dan keintiman dengan Tuhan, dengar suara-Nya, dan pergi dalam ketaatan karena pernyataan Tuhan, maka kita akan melihat bangsa ini dimenangkan bagi Dia.

 

Oleh: Pnt. Ir. Leonardo Mangunsong

GAYA HIDUP PENYEMBAH YANG BENAR

Pnt.Sahala Hutagalung

Pnt.Sahala Hutagalung

Galatia 2:20a, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku.

Sejak kita menerima dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa kita, maka sejak saat itu roh kita menjadi hidup kembali, di mana roh kita hidup untuk mengenal dan mengikuti kehendak Yesus Kristus. Roh Kudus memimpin hati, pikiran dan tabiat kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Yesus Kristus mengubah hidup kita dari manusia lama kepada manusia yang baru, di mana yang lama sudah dikubur dan mati, dan lahirlah manusia baru. Suatu refleksi kehidupan yang baru, di mana menjadi orang yang suka menyembah dan memuliakan Tuhan. Memuji Tuhan menjadi kesukaan, melakukan perbuatan baik dengan segenap hati seperti untuk Tuhan menjadi gaya hidup sehari-hari, dan Tuhan di nomor satukan dalam segala aspek kehidupan.

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, itu bukan gaya hidup penyembah Allah melainkan penyembah berhala (Kolose 3:5).

Matikan berarti jangan dihidupkan kembali, jangan dibangkitkan kembali. Oleh karena itu kita sebagai pengikut Kristus tidak lagi hidup dalam percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan.

Jemaat Tuhan yang saya kasihi, sebagai penyembah Kristus, kita mau menggunakan bahasa roh sebagai doa yang tidak dimengerti oleh pikiran kita, tetapi roh kita sedang berdoa kepada Bapa di Sorga, kita juga berdoa dengan akal budi kita memuji dan menyembah Yesus Kristus dan memohon kepada Dia segala sesuatu yang ingin kita sampaikan.

Sebagai orang yang suka menyembah Allah dalam roh dan akal budi, gaya hidup kita kehidupan yang senantiasa memuliakan Bapa di Sorga dan  mengutamakan Yesus untuk ditaati dalam setiap keputusan.

Saat ini Kristus yang hidup di dalam Saudara dan saya, sudah mematikan dosa seks, keinginan untuk berbuat cabul, melakukan hal yang najis, keinginan yang penuh hawa nafsu, ingin melakukan nafsu jahat dan keserakahan. Jangan dibangkitkan dan dihidupkan kembali sesuatu yang sudah mati, hiduplah dalam kebenaran Allah.

 

Oleh: Pnt. Sahala Hutagalung

PENYEMBAHAN YANG BENAR UNTUK MEMAHAMI HATI BAPA

Pnt. Leonardo Mangunsong

Dalam pertemuan antara perempuan Samaria dengan Tuhan Yesus, kisah ini tidak hanya untuk membawa kita melihat seorang wanita Samaria yang penuh dosa, diampuni dan diselamatkan. Namun ada hal yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa penyembahan yang salah berakibat kita tidak mengenal hati Tuhan, tidak mengenal Bapa. Itulah sebabnya Tuhan mengajar kita untuk menyembah Dia dengan cara yang benar.

Perempuan Samaria merasa bahwa ia telah menyembah Tuhan dengan benar, seperti pola yang dia tahu dari nenek moyangnya, itu yang dia pahami dalam pikirannya. Namun penyembahan yang dibangunnya selama ini tidak membawa hidupnya ke dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Sementara dia menyembah Tuhan menurut pandangan dia, ternyata dia juga hidup dalam dosa dan tidak mampu keluar dari ikatan tersebut, sampai dia berjumpa dengan Yesus, mengenal Tuhan dan masuk dalam penyembahan yang benar.

Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem   Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:21-24)

Bapa sendiri yang menghendaki penyembah–penyembah benar dan Dia mencari penyembah-penyembah itu, supaya penyembah-penyembah-Nya mengenal Dia, mengenal isi hati-Nya dan tujuan-Nya. Ini adalah hal yang luar biasa! Bapa sendiri yang berinisiatif dan menggenapi maksud hati-Nya karena Bapa rindu untuk dikenal oleh banyak orang.

Allah tidak ingin kita membangun penyembahan seperti yang dibangun oleh dunia atau manusia atau dari opini kita sendiri, tetapi penyembahan yang dibuat dan diprakarsai oleh Tuhan sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, karena Allah itu Roh adanya. Bersyukur karena kelahiran kembali ketika kita mengundang Roh Allah masuk dalam hati kita, membuat kita dapat menyembah Dia dalam roh.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah  (Roma 8:15-16)

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6)

Di dalam roh kita bersemayam Roh Allah. Jadi Roh Allah ada bersama roh kita. Kebersatuan ini menyebabkan kita dapat berseru “ya Abba ya Bapa”, karena Roh Allah yang tinggal dalam kitalah yang menyebabkan kita dapat menyembah Allah. Inilah yang dimaksudkan dengan  menyembah dalam roh.

Dikatakan juga, menyembah Tuhan haruslah dalam kebenaran. Kebenaran adalah Firman Tuhan, berarti penyembahan kita harus sesuai dengan firman Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Jadi dalam menyembah, kita harus dalam kekudusan karena darah Yesus dan dalam ketulusan, sehingga waktu tangan terangkat, mulut memuji, kaki menari dan melompat, bertepuk tangan dan bersorak-sorai, bahkan sujud menyembah, semua dilakukan karena dasar firman Tuhan.

Menyembah dalam roh dan kebenaran ini haruslah menjadi gaya hidup kita secara konsisten. Ketika penyembahan ini terus kita bangun dan fokus penyembahan kita adalah Bapa, maka pada akhirnya kita dapat mengenal Bapa dan isi hati-Nya, dan kita akan menjadi seperti yang kita sembah, karena memang kita akan masuk dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang semakin besar, dan pada akhirnya kita akan menjadi sama seperti Yesus (2 Korintus 3:18).

Ketika kita mengenal isi hati Bapa, maka kita dapat mengerjakan dan menyelesaikan apa yang menjadi isi hati-Nya. Inilah yang menyebabkan gereja menjadi kuat, karena dikatakan dalam Daniel 11:32b: tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.

Yesus membangun hidup yang dekat dengan Bapa, dan Dia melihat Bapa bekerja, sehingga Dia dapat berkata: BapaKu bekerja maka Aku bekerja. Selama hari masih siang, Yesus tetap bekerja, karena akan datang malam di mana kita tidak bisa lagi bekerja.

Tuhan memberikan visi kepada Gereja-Nya di tempat ini untuk membuat Indonesia dan bangsa–bangsa penuh kemuliaan-Nya, itulah isi hati Tuhan bagi kita, dan kita harus mengerjakannya.

Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu (Mazmur 2:8)

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” ( Matius 11:28–30)

Marilah kita membangun keintiman dengan Tuhan melalui penyembahan kita kepada Bapa, sehingga kita dapat mengenal Bapa dan memahami isi hati-Nya, dan kita akan bergerak, berjalan, dan melangkah dengan pasti untuk mengerjakan pekerjaan Bapa. Inilah yang membuat hidup kita berhasil di muka bumi, karena kita ada untuk mengerjakan dan menyelesaikan rencana Bapa, sama seperti Yesus telah mengerjakannya. Amin.

 

 

Oleh: Pnt. Ir. Leonardo Mangunsong