• <font face=Arise and Shine to be a Witness" />
  • Visi
  • MISI
  • NILAI-NILAI

TERTANAM DALAM HADIRAT TUHAN

Pnt. Leonardo Mangunsong

 Ketika kita lahir baru, lahir kembali oleh pekerjaan Roh Kudus, maka kita menerima benih ilahi, yaitu Kristus Yesus, Firman yang hidup.

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Petrus 1:23)

 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah (1 Yohanes 3:9)

 

Benih yang ada dalam hati kita akan tumbuh dan berbuah tiga puluh, enam puluh bahkan seratus kali lipat, sehingga dalam Yesaya 61:3 kita diumpamakan sebagai “pohon tarbantin kebenaran”, ”tanaman Tuhan” untuk memperlihatkan keagungan-Nya. Bahkan dalam Mazmur 1:3 dikatakan: Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Menerima benih, yaitu Firman Tuhan, bertumbuh menjadi tanaman Tuhan, sampai berbuah lebat, membuat kita tertanam dalam hadirat Tuhan. Tuhan ingin hal ini menjadi pola hidup gereja Tuhan, sampai kita menjadi sama seperti Yesus dalam segala hal.

Marilah kita bersama-sama menghidupi pola tersebut, sampai kita melihat perubahan yang nyata dalam kehidupan berjemaat di gereja Tuhan di tempat ini. Demikianlah urutannya:

  1. Terimalah firman Tuhan dengan lemah lembut.

“Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu“ (Yakobus 1:21)

Sebelumnya, pastikan bahwa hati kita menjadi tanah yang subur untuk benih firman Tuhan jatuh di atasnya, bukan jatuh di pinggir-pinggir jalan, di semak-semak duri serta di tanah yang berbatu-batu. Ketidakpercayaan, kekuatiran dunia, dll. harus kita singkirkan. Hal tersebut sama dengan Mazmur 1:1, bahwa kita tidak boleh berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak boleh berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak boleh duduk dalam kumpulan pencemooh, sehingga firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman tersebut siang dan malam.

Untuk merenungkan firman Tuhan tersebut kita perlu menyediakan waktu yang khusus untuk bersekutu dengan Tuhan, sampai Tuhan berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Seperti Yesus, pagi-pagi benar Ia ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana, mengalami perjumpaan dengan Bapa. Tuhan mau kita melakukan hal yang sama, menyediakan waktu yang khusus sampai kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan; seperti murid-murid Tuhan Yesus yang menjadi berkobar-kobar ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus dan firman-Nya. Marilah kita sediakan waktu yang khusus di pagi hari untuk bersekutu dengan Tuhan.

 

  1. Pastikan yang kita terima itu adalah benih firman Tuhan, artinya Yesus sendiri yang berfirman kepada kita melalui firman-Nya di Alkitab. Itulah sebabnya kita perlu bersekutu, disiplin dan gigih serta setia untuk menanti-nantikan firman-Nya dalam persekutuan pribadi kita dengan Tuhan, artinya perlu ketenangan, jangan tergesa-gesa atau asal-asalan, tapi serius dan fokus kepada perjumpaan dengan Tuhan dan firman-Nya seperti yang dialami oleh Elia, dia bersungguh-sungguh mencari Tuhan. Alkitab menjadi pokok bacaan dan perenungan kita sehari-hari.

 

  1. Benih firman Tuhan itu biarkan bertumbuh. Untuk bertumbuh beri kesempatan bagi Roh Kudus untuk memberi pertumbuhan bagi rohani kita sementara kita terus merenungkan firman Tuhan, karena dalam kitab Korintus dikatakan:

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Korintus 3:6-7)

Kita harus menjaga hati yang terus menerus lapar dan haus akan Tuhan, karena karya Tuhanlah yang akan memuaskan hati kita untuk bertumbuh. Pertumbuhan yang dimaksudkan itu adalah pertumbuhan rohani, yang memiliki karakter, cara hidup, pola pikir, seperti Kristus, sehingga perkataan Yesus Kristus digenapi, kita menjadi pohon tarbantin kebenaran, tanaman Tuhan.

 

  1. Berubah menjadi sama seperti Yesus dan berbuah lebat.

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, (Mazmur 92:13-15)

 

Jadi untuk bertumbuh dan berbuah dimulai dari keintiman kita dengan firman Tuhan, mengalami kedewasaan dan berubah ke arah Kristus. Bangun secara konsisten, maka Kristus akan semakin nyata dalam hidup kita, tertanam dalam hadirat Tuhan dan hidup kita pun akan berbuah lebat.

 

 

Oleh: Pnt. Leonardo Mangunsong

 

BERUBAH  DAN  BERBUAH DALAM  HADIRAT  TUHAN

 

Pnt. Robinson Saragih

Pnt. Robinson Saragih

LUKAS 19 : 5–8 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan MENERIMA YESUS dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Saudara yang kekasih, Yesus memutuskan dan meminta Zakheus turun dari atas pohon karena Dia ingin menumpang di rumah Zakheus. Zakheus menyadari siapa dirinya dan dia ingin melihat Yesus yang sudah diberitakan orang banyak dan saat itu Yesus sedang melintas di kotanya, dia ingin melihat Yesus yang luar bisa dalam PENDENGARANNYA. Ketika Yesus meminta dia turun dan menyatakan ingin menumpang di rumahnya, dia dengan senang menerima Yesus dan pertemuan dengan Yesus dan juga kehadiran Yesus di rumah Zakheus menyebabkan Zakheus yang dikenal sebagai musuh orang Yahudi dan sebagai petugas pajak pada zaman itu, mereka dianggap sebagai pengkhianat bagi rakyat Yahudi. Zakheus dikenal sebagai kaki tangan bangsa Romawi yang menjajah orang Yahudi, Zakheus dituduh sebagai pemeras bagi bangsanya orang Yahudi.

Kehadiran Yesus di rumah Zakheus menyebabkan Zakheus merasakan dan mengalami kasih Yesus yang luar biasa, menyebabkan semua orang mencibir terhadap  Yesus: “Yesus menumpang di rumah orang berdosa.” Zakheus dikenal sebagai pembuat dosa. Dia adalah pendosa dalam mata orang Yahudi.  Zakheus memiliki stigma dalam pandangan orang Yahudi Zakheus adalah musuh, pengkhianat bangsa, pemeras, penipu, dll. tuduhan bagi pemungut cukai. Sejak dulu sampai saat ini petugas pajak mendapat stigma sebagai orang yang tidak baik.

Kehadiran Yesus menyebabkan Zakheus merasakan kasih Allah yang sangat berdampak pada hidup Zakheus; roh, jiwa, dan tubuhnya dilawat oleh Tuhan, menyebabkan Zakheus rela menghibahkan setengah dari hartanya kepada orang miskin, suatu perubahan yang sangat drastis dan sangat signifikan. Zakheus mengalami perubahan dalam pandangannya terhadap kekayaan yang dia miliki. KASIH ALLAH menyebabkan Zakheus tidak lagi haus untuk mengumpulkan harta benda. Dia rela memberikan setengah dari harta miliknya diberikan kepada orang miskin dan Zakheus berjanji jika ada orang yang telah ditipu dan diperas olehnya dia rela mengembalikannya empat kali lipat. Suatu pertobatan dan perubahan pikiran yang sangat luar biasa pada kehidupan Zakheus.

Hadirat Allah yang dibawa oleh kehadiran Yesus menyebabkan Zakheus menyadari betapa BESARNYA KASIH ALLAH itu dan hal itu membuat Zakheus mengalami sukacita yang luar biasa dan tidak sebanding dengan hartanya yang menurut orang banyak adalah penyebab kebahagiaan dan sukacita. Namun Zakheus saat itu merasakan SESUATU YANG BELUM PERNAH DIA rasakan, bayangkan dan mimpikan. Kehadiran Yesus menyebabkan suasana SURGA hadir dalam rumahnya.

Kehadiran TUHAN dalam rumah Zakheus menyebabkan kehidupan mereka berubah, pandangan mereka berubah, terjadi suatu METANOIA dalam pandangan Zakheus yang menyebabkan dia mengasihi orang miskin. Suatu perubahan yang sangat nyata dalam kehidupan Zakheus, hal itu bukan karena dia mendengarkan pengajaran etika, pengajaran yang memotivasi dia untuk berbuat kasih kepada orang miskin, bukan. Hal itu terjadi ketika Zakheus dengan sukacita menerima Yesus di rumahnya. Kehadiran Yesus di dalam rumahnya membuat Zakheus berubah dan Zakheus menjadi seorang yang baru, yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. HADIRAT ALLAH membuat Zakheus berubah. Perubahan yang terjadi bukan karena usahanya, namun karena Zakheus merasakan dan mengalami KASIH ALLAH yang sangat berbeda dari apapun yang dia rasakan dan alami sebelumnya di dalam kehidupan dia sebagai orang Yahudi yang bekerja sebagai pegawai atau pekerja bagi bangsa Romawi yang pemungut cukai di tengah-tengah kaum sebangsanya.

Kehadiran Yesus di dalam rumahnya menyebabkan Zakheus menikmati HADIRAT ALLAH yang mengubah Zakheus dalam roh dan jiwanya.

Saudara, apa yang Anda  alami ketika Yesus hadir dalam rumahmu? Dalam bisnismu? Apa yang kau alami ketika Yesus hadir dalam kantor Saudara? Perubahan apa yang Anda alami ketika engkau ketemu Yesus? Apa yang Anda alami ketika Anda ketemu Yesus dalam doa-doa Anda?  Ketika engkau memuji dan menyembah Dia dalam ibadahmu, apa yang engkau alami?

Saudara, kita belajar dari kehidupan Zakheus, ketika dia mengalami kehadiran Allah maka Zakheus merasakan KASIH ALLAH yang tidak terbatas dan menyebabkan dia mengalami perubahan memandang hartanya, memandang orang miskin dan orang-orang yang tertipu oleh pekerjaan petugas pajak, dll.. Haleluya. Puji Tuhan. Saudara juga akan mengalami perubahan karakter ketika  Saudara berjumpa dengan Tuhan dalam hadirat-Nya. Amin !!!

 

Oleh: Pnt. Robinson Saragih

 

SALING MENGAMPUNI DAN BUKAN MENGHAKIMI

Pnt. Leonardo Mangunsong

Dalam  kehidupan  berjemaat dalam gereja lokal sering terjadi perpecahan, kekacauan dan keterlukaan di dalam jemaat karena kehidupan yang saling menghakimi, memfitnah dan mengkritik yang tidak membangun.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu terjadi, di antaranya:

  1. 1. Setelah kita mengetahui kebenaran atau hukum Tuhan, kita cenderung untuk memakai kebenaran atau hukum tersebut untuk menghakimi, memfitnah atau mengkritik sesama kita. Seharusnya kebenaran atau hukum itu kita pakai untuk menasehati, menegur dan mengkritik untuk membangun orang lain, sehingga kebenaran atau hukum yang kita ketahui itu menjadi berkat bagi orang lain, seperti orang Farisi di zaman Tuhan Yesus, di mana mereka merasa banyak tahu hukum dan kebenaran tetapi hukum tersebut mereka pakai untuk menghakimi dan menyalahkan orang lain dalam sikap yang sombong secara rohani. Itulah sebabnya Yesus selalu menegur sikap-sikap mereka yang salah.

Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia? (Yakobus 4 : 11- 12)

  1. Ketika kita mengetahui kesalahan atau dosa orang lain, bukan secara langsung kita mengetahuinya, melainkan dari orang lain, dan tanpa menyelidiki keabsahannya, namun berita tersebut kita bicarakan, digosipkan, maka hal tersebut merupakan penghakiman dan fitnah terhadap sesama kita. Seharusnya kita mencari kebenaran berita tersebut, sehingga kita dapat menegur dan menasehati saudara seiman kita.

Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! (Roma 14:13)

  1. Kita mencoba melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, namun sesungguhnya kita pun memiliki banyak kelemahan. Sikap penghakiman kita terhadap orang lain sepertinya untuk menutup kelemahan kita; hal ini seperti yang dilakukan oleh orang Farisi, yang menghakimi perempuan yang melakukan perzinahan.

Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. (Roma 2:1)

 

Tuhan Yesus ingin agar kita belajar hidup seperti Dia, di mana Dia adalah Hakim, namun rela untuk menyelamatkan. Tuhan tahu dosa dan kelemahan manusia, tetapi Dia mengampuni dosa manusia, bukan menjatuhkan manusia kepada dosa. Kecenderungan manusia adalah tahu dosa atau kesalahan orang lain, tapi cenderung untuk menghakimi, memfitnah, dan mengktirik  orang lain, dan tidak berkuasa untuk menyelamatkan orang tersebut. Satu-satunya cara Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah dengan mengampuni dosa manusia. Itulah sebabnya Tuhan ingin agar kita hidup saling mengampuni, bukan menghakimi.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Pengampunan terhadap orang lain bukan hanya membuat kita tidak menghakimi dan memfitnah mereka, tetapi kita bisa bersikap ramah dan hidup dalam kasih mesra terhadap orang lain.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efesus 4:32)

Tujuannya adalah agar terang Kristus menjadi nyata melalui karakter kita, di mana kita hidup saling mengampuni dan tidak menghakimi atau memfitnah.

Para penatua mengajak seluruh jemaat agar hidup tidak saling menghakimi, memfitnah, dan mengkritik yang tidak membangun, tetapi hidup saling mengampuni dan saling mengasihi, agar tidak timbul perpecahan, kekacauan, iri hati, serta kepahitan di antara jemaat.

 

Oleh: Pnt. Leonardo Mangunsong